BiSNIS EKONOMI

ESDM Pangkas Produksi Nikel 2026 Jadi 260 Juta Ton, Dongkrak Harga Global

Foto udara pemukiman warga dan kawasan industri berbasis nikel Indonesia Morowali Industrial Park atau PT IMIP di Kecamatan Bahodopi, Sulawesi Tengah, Januari 2024. (ANTARA/Mohamad Hamzah) GETNEWS

JAKARTA, getnews.co.id — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan penurunan target produksi nikel nasional secara signifikan untuk tahun 2026. Produksi dipatok pada kisaran 250 hingga 260 juta ton, menurun tajam dibandingkan target dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 yang mencapai 379 juta ton.

​Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara (Dirjen Minerba), Tri Winarno, menjelaskan bahwa penyesuaian ini dilakukan untuk menyelaraskan pasokan dengan kapasitas produksi smelter di dalam negeri.

​“Nikel kami sesuaikan dengan kapasitas produksi dari smelter, kemungkinan sekitar 250–260 (juta ton),” ujar Tri Winarno dalam keterangan resminya, Rabu (14/1/2026).

Intervensi Harga Pasar Dunia

​Tri menegaskan bahwa langkah pemangkasan produksi ini merupakan strategi pemerintah untuk memperbaiki harga komoditas nikel di pasar dunia. Strategi tersebut mulai menunjukkan tren positif; saat ini harga nikel telah menembus angka 17 ribu dolar AS per dry metric ton (dmt). Angka ini naik signifikan jika dibandingkan dengan rata-rata harga sepanjang tahun 2025 yang tertahan di level 14 ribu dolar AS per dmt.

Kepastian RKAB Vale Indonesia

​Terkait korporasi, kementerian memastikan bahwa RKAB 2026 milik PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) akan diterbitkan pada Rabu malam (14/1/2026). Tri menyebutkan bahwa Vale tidak mendapatkan relaksasi produksi sebesar 25 persen karena RKAB perusahaan tersebut telah habis pada 2025 dan sedang dalam tahap pengajuan baru.

​“RKAB yang diterima Vale akan berlaku satu tahun, sebab yang diajukan merupakan RKAB baru khusus untuk tahun ini,” tambahnya.

Perbandingan Produksi & Harga Nikel (2025-2026)

Nickel Production & Price Comparison
IndikatorRKAB 2025Target 2026
Total Produksi379 Juta Ton250-260 Juta Ton
Harga Rata-rata14.000 USD/dmt17.000+ USD/dmt

Dorong Kolaborasi, Larang Monopoli

​Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, memberikan peringatan keras kepada industri besar agar kebijakan pemangkasan ini tidak berujung pada praktik monopoli. Ia mewajibkan industri besar untuk tetap menyerap bijih nikel dari pengusaha tambang lokal agar tercipta pemerataan ekonomi di daerah.

​“Jangan ada monopoli. Kami ingin investor kuat, tetapi pengusaha daerah juga kuat. Supaya ada kolaborasi,” tegas Bahlil Lahadalia.

​Langkah kementerian ini diharapkan mampu memperkuat posisi tawar Indonesia sebagai salah satu pemilik cadangan nikel terbesar dunia dalam menjaga stabilitas pasar mineral global sepanjang tahun 2026.

Informasi Sumber Resmi

Artikel ini diolah berdasarkan rilis berita resmi yang diterbitkan oleh Portal Komunikasi Publik (InfoPublik.id).

*Konten rilis telah disesuaikan dengan standar editorial Getnews.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *