AMBARA – Fadli Zon baru saja meluncurkan buku sejarah baru berjudul Sejarah Nasional Indonesia: Perspektif Baru. Bagi beliau, sejarah itu nggak boleh statis; ia harus dinamis, dikritik, dan ditulis ulang kalau perlu.
Mendengar ini, saya jadi kepikiran rak buku di rumah yang sudah sesak. Kalau sejarah terus ditulis ulang setiap kali ada menteri baru atau rezim baru, lama-lama kita butuh rumah seukuran gudang Bulog cuma buat menyimpan narasi tentang siapa kita sebenarnya. Tapi ya begitulah sejarah; ia mirip seperti status WhatsApp mantan—selalu ada pembaruan yang bikin kita pengen komentar.
Baca silsilahnya asal usulnya: Sejarah Bukan Statis—Membaca Peta Baru Narasi Nasional di Balik Peluncuran Buku Sejarah Versi Fadli Zon
Antara Arsip dan Realitas yang ‘Zonk’
Dalam peluncuran itu, Fadli Zon menekankan pentingnya membaca peta baru narasi nasional. Beliau mau kita melihat sejarah bukan sebagai benda mati di museum, tapi sebagai sesuatu yang hidup. Masalahnya, kadang narasi yang hidup di atas kertas buku sejarah sering kali berantem sama narasi yang hidup di dompet rakyat.
Contohnya begini: di buku sejarah, kita diajarkan menjadi bangsa yang mandiri dan berdaulat. Tapi di dunia nyata, Menkeu Purbaya masih harus kerja keras mengejar pertumbuhan 8% biar kita nggak terjebak dalam kasta “Negara Berkembang Selamanya”. Sejarah mencatat kita bangsa pejuang, tapi realita mencatat kita masih pejuang cicilan. Kontras yang sangat sastrawi, bukan?
Menulis Ulang Nasib atau Menulis Ulang Kertas?
Fadli Zon bilang sejarah itu peta. Oke, saya sepakat. Tapi peta yang bagus harusnya menunjukkan jalan keluar dari masalah, bukan cuma menunjukkan di mana lokasi makam pahlawan.
Saya jadi ingat teman-teman kita, para honorer non-database di Pemprov NTB yang nasibnya mau “ditamatkan” sejarahnya per 31 Desember nanti. Kalau sejarah benar-benar dinamis, harusnya ada satu bab dalam buku Pak Fadli yang membahas tentang pengabdian mereka. Jangan sampai sejarah mencatat kita jago mencetak buku mewah dengan sampul mengkilap, tapi gagal mencatatkan rasa terima kasih pada mereka yang sudah mengabdi belasan tahun di pojokan kantor pemerintahan.
Sejarah Adalah Kita yang Sedang Berjalan
Pada akhirnya, buku sejarah versi Fadli Zon ini adalah pengingat bahwa narasi nasional itu milik kita semua, bukan cuma milik mereka yang punya akses ke penerbit. Sejarah bukan cuma soal apa yang terjadi di masa lalu, tapi soal apa yang kita biarkan terjadi hari ini.
Kalau hari ini kita membiarkan judi online merusak 3,1 juta orang, atau membiarkan honorer kehilangan harapan di akhir tahun, maka sejarah masa depan akan menulis kita sebagai bangsa yang jago berwacana tapi gagap berempati.
Mari kita baca buku Pak Fadli sambil minum kopi. Siapa tahu, setelah menutup halaman terakhir, kita jadi sadar bahwa menulis sejarah yang paling penting bukan di atas kertas, tapi di dalam kebijakan yang bikin rakyat nggak merasa “di-zonk-kan” oleh bangsanya sendiri.
Selamat membaca, dan jangan lupa: sejarah mungkin tidak statis, tapi tagihan listrik tetap stabil datang setiap bulan.




