FEATURE

Fahri Hamzah: 6 Juta Keluarga Tinggal di Rumah Tak Layak Akibat Buruknya Sanitasi, Program 3 Juta Rumah Wajib Berbasis Data

Fahri Hamzah (FB Fahri Hamzah)

Analisis Tokoh NTB di BIG Conference 2025: Persoalan Perumahan Nasional Bukan Hanya Soal Jumlah, Tapi Kualitas Hunian dan Kesehatan Masyarakat.

​Tokoh nasional asal Sumbawa, Fahri Hamzah, melontarkan kritik keras terhadap kualitas hunian rakyat di Indonesia, mengungkapkan data mengejutkan: Enam juta keluarga masih tinggal di rumah yang dianggap tidak layak, dengan pemicu utama adalah buruknya sanitasi.

​Dalam acara BIG Conference 2025 di Jakarta, Fahri Hamzah menegaskan bahwa tantangan perumahan nasional sudah melampaui urusan kepemilikan (backlog)—ini adalah masalah kesehatan publik dan kualitas hidup jutaan warga.

​Krisis Kualitas: Bukan Hanya Backlog, Tapi Sanitasi

​Fahri Hamzah memecah masalah perumahan nasional menjadi dua dimensi:

  • Dimensi Kuantitas: Jumlah rumah yang kurang (Backlog).
  • Dimensi Kualitas dan Kesehatan: Di sinilah masalah terbesarnya. Enam juta keluarga hidup dalam kondisi hunian yang tidak layak karena buruknya sanitasi.

​Pernyataan ini menggeser fokus kebijakan: membangun rumah baru saja tidak cukup jika infrastruktur dasar seperti sanitasi dan kebersihan di lingkungan tersebut tidak diperhatikan. Kualitas hunian sama pentingnya dengan kepemilikan.

​Solusi Data: Mengawal Program 3 Juta Rumah

​Menjawab persoalan ini, Fahri Hamzah menyoroti program unggulan pemerintah.

  • Mandat Presiden: Program 3 Juta Rumah yang menjadi arahan Presiden harus dipahami sebagai kebijakan masif yang dirancang untuk menjawab persoalan backlog dan kualitas hunian masyarakat di seluruh Indonesia.
  • Kewajiban Data: Kunci keberhasilan program ini adalah basis data. Program ini harus dijalankan secara masif berbasis data agar alokasi pembangunan dan perbaikan kualitas tepat sasaran, utamanya di daerah yang memiliki kasus sanitasi buruk tertinggi.

​Suara Sumbawa untuk Kualitas Hidup

​Sebagai tokoh yang memiliki akar kuat di NTB/Sumbawa, seruan Fahri Hamzah memiliki resonansi khusus bagi daerahnya.

​NTB, yang memiliki basis traffic kuat di Mataram dan Lombok, wajib mengawal implementasi program 3 Juta Rumah. Pemerintah Daerah harus memastikan bahwa program ini:

Tepat Sasaran di NTB: Menggunakan data akurat untuk mengidentifikasi kantong-kantong permukiman di Lombok dan Sumbawa yang masih menghadapi masalah sanitasi kronis.

Meningkatkan Kualitas: Tidak hanya fokus pada pembangunan unit baru, tetapi juga pada upaya perbaikan dan peningkatan kualitas sanitasi bagi 6 juta keluarga yang rentan, termasuk yang ada di NTB.

​Kritik Fahri Hamzah adalah pengingat bahwa pembangunan nasional harus inklusif dan humanis. Program 3 Juta Rumah harus menjadi momentum perbaikan kualitas hidup dan sanitasi—bukan hanya pencapaian target angka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *