OASE

Gajah di Pelupuk Mata yang Terabaikan: Menakar Rasa Syukur atas Khidmah Pemerintah

Seorang anak korban bencana Sumatra memberikan hormat kepada Presiden Prabowo saat kunjungan ke lokasi bencana (Foto Dok. BPMI SETPRES)

OASE – Pernahkah kita terjebak dalam rasa kagum yang berlebihan terhadap uluran tangan asing, hingga kita lupa bahwa di depan mata kita sendiri, ada upaya besar yang sedang dikerjakan oleh saudara sebangsa? Di Aceh dan berbagai penjuru negeri, fenomena ini sering muncul: bantuan kecil dari luar negeri disanjung setinggi langit, sementara dana Rp 52,9 Triliun dari APBN yang dialokasikan untuk perbaikan gizi rakyat dianggap sebagai hal yang “memang sudah seharusnya”.

​Ibarat pepatah, “Gajah di pelupuk mata tak terlihat, namun semut di seberang lautan nampak nyata.” Kita seringkali menjadi “buta” terhadap khidmah atau pelayanan dari pemerintah kita sendiri, hanya karena kita terlalu terpesona pada “kemasan” bantuan dari negeri orang.

​Islam mengajarkan kita bahwa rasa syukur kepada Sang Pencipta tidak akan sempurna jika kita gagal menghargai perantara rezeki yang ada di depan mata kita.

Menghargai Perantara Manusia

Rasulullah S.A.W. bersabda dalam sebuah hadist yang sangat menohok bagi jiwa yang kufur terhadap nikmat yang dekat: ​

“Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih kepada sesama manusia.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). ​

Jika kita meremehkan upaya pemerintah dalam mengelola aset negara untuk rakyat—seperti penyerapan dana sosial yang masif demi keberlangsungan generasi—maka sebenarnya kita sedang bermasalah dengan rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Jangan Kufur Terhadap Nikmat yang Dekat

Allah SWT berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7: ​“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Kufur nikmat bukan hanya soal mengingkari adanya Tuhan, tapi juga meremehkan bantuan yang sudah ada di depan mata demi mencari-cari pembenaran atas kehebatan pihak luar.

Baca juga: Bantuan Kemanusiaan Terbesar Tiba di Aceh: Gubernur Muzakir Manaf Apresiasi Sinergi Kementan-Bapanas

Muhasabah bagi Kita

Penyerapan anggaran sebesar Rp 52,9 Triliun hingga pertengahan Desember ini adalah bukti kerja nyata yang membutuhkan keringat dan koordinasi ribuan orang. Di saat buruh sedang memperjuangkan hak upah yang layak, keberadaan subsidi dan bantuan sosial dari negara adalah benteng pertahanan terakhir bagi rakyat kecil.

​Jangan sampai kita menjadi kaum yang pandai berterima kasih pada “tamu jauh”, namun lupa mencium tangan “ibu sendiri” yang telah memasakkan makanan di dapur. Mari kita buka mata pelupuk kita. Lihatlah gajah kebaikan yang ada di depan mata, syukuri setiap upaya yang dilakukan bangsa sendiri, agar keberkahan senantiasa menaungi Bumi Serambi Mekkah dan seluruh Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *