JAKARTA — Di balik riuhnya selawat di Masjid Istiqlal pada Sabtu, 7 Februari 2026, tersimpan pesan politik yang lebih dalam dari sekadar seremoni keagamaan. Pengukuhan pengurus MUI periode 2025–2030 menandai babak baru relasi “Ulama-Umara” di era pemerintahan Prabowo Subianto.
Analisis terhadap komposisi pengurus baru ini menunjukkan adanya pergeseran signifikan dari sekadar representasi ormas, menuju konsolidasi kekuatan moral untuk mendukung stabilitas nasional.
1. Peta Kekuatan: Dominasi Moderat
Investigasi terhadap nama-nama yang mengisi jajaran pimpinan harian menunjukkan dominasi tokoh-tokoh dari dua pilar besar, NU dan Muhammadiyah, yang dikenal memiliki garis “Wasathiyah” (moderat). Masuknya sejumlah wajah baru dari kalangan akademisi dan profesional teknokratis mengindikasikan bahwa MUI ke depan akan lebih banyak bicara soal data dan solusi bangsa ketimbang sekadar fatwa normatif.
2. Sinergi Strategis dengan Istana
Kehadiran Presiden Prabowo yang menekankan “kekuatan moral” mengisyaratkan bahwa pemerintah membutuhkan MUI sebagai jangkar stabilitas. Dengan tantangan ekonomi global dan dinamika digital yang rawan polarisasi, gerbong baru MUI diharapkan menjadi peredam kejut (shock absorber) jika terjadi gesekan sosial di akar rumput.
Kesimpulan
Pengukuhan ini bukan sekadar pergantian wajah, melainkan upaya mempertebal dinding pertahanan sosial Indonesia menjelang bulan suci Ramadan dan tahun-tahun politik mendatang. Tantangan terbesarnya: mampukah MUI tetap menjadi kritikus yang objektif bagi pemerintah di saat mereka dirangkul erat sebagai “kunci kebangkitan”?
Verified Source: mui.or.id




