Quick Insights: Bedah Data 30 Detik
- Ilusi TPT: Penurunan pengangguran hingga 3,05% tidak sepenuhnya karena pertumbuhan lapangan kerja lokal, melainkan tertolong oleh “ekspor” 25.000+ PMI ke luar negeri sepanjang 2025.
- Gelar vs Kerja: Kenaikan proporsi pekerja terdidik (14,20%) belum linear dengan industri; fenomena underemployment (sarjana bekerja di sektor informal) masih mendominasi.
- Ketergantungan Tambang: Meskipun sektor non-tambang tumbuh, daya beli UMKM NTB masih sangat bergantung pada perputaran uang dari sektor ekstraktif.
MATARAM — Dalam setahun terakhir, narasi yang keluar dari Kantor Gubernur NTB terasa seperti lagu pengantar tidur yang sangat merdu: Pengangguran turun, partisipasi kerja perempuan naik, dan SDM mulai “naik kelas”. Mahkota pencapaiannya adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang menyusut menjadi 3,05% per November 2025.
Namun, di balik selebrasi angka-angka desimal tersebut, ada pertanyaan besar ala The Economist: apakah penurunan ini adalah hasil dari penciptaan lapangan kerja domestik yang berkelanjutan, ataukah sekadar efek dari ribuan warga NTB yang memilih “mengungsi” menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI)?
Otot Lokal atau Ekspor Manusia?
Klaim Pemprov menyebut penambahan 29,57 ribu tenaga kerja sebagai bukti pemulihan. Namun, data menunjukkan bahwa sepanjang 2025, minat menjadi PMI tetap tinggi. Meminjam kacamata Ambara, menurunkan pengangguran dengan mengirim orang ke Malaysia atau Saudi itu ibarat membersihkan rumah dengan cara membuang perabotan ke halaman tetangga. Rumah memang terlihat rapi (TPT turun), tapi masalah fundamentalnya—yaitu minimnya industri pengolahan yang mampu menyerap tenaga kerja secara massal di rumah sendiri—masih ada di sana.
Bukan Hanya Bertambah, Kualitasnya (Katanya) Meningkat
Pemprov membanggakan proporsi pekerja lulusan Diploma dan Universitas yang naik menjadi 14,20%. Sinyal SDM NTB naik kelas? Mungkin. Tapi jika kita melihat lapangan kerja yang tumbuh paling subur adalah sektor Akomodasi, Makan Minum, dan Jasa Lainnya, kita patut curiga. Berapa banyak sarjana hukum atau teknik yang akhirnya berlabuh menjadi kurir paket atau barista karena industri manufaktur kita masih jalan di tempat?
Analisis Penutup: Bedak Statistik dan Wajah Asli Ekonomi Rakyat
Pada akhirnya, satu tahun Iqbal–Dinda sukses memberikan “bedak” statistik yang cukup tebal bagi wajah ekonomi NTB. Angka TPT 3,05% itu memang cantik kalau difoto buat laporan ke pusat, tapi buat rakyat yang masih harus mengantre pinjaman di bank subuh atau berdesakan di bandara buat jadi buruh migran, kecantikan angka itu rasanya hambar. Menurunkan pengangguran dengan cara membiarkan warga pergi ke negeri orang itu bukan prestasi ekonomi, itu adalah pengakuan bahwa di rumah sendiri kita belum bisa kasih makan mereka dengan layak. Jadi, Pak Iqbal dan Bu Dinda, kalau tahun depan angkanya turun lagi, tolong pastikan itu karena pabrik-pabrik di NTB sudah berdiri, bukan karena jadwal penerbangan ke Malaysia ditambah lagi. Sante, Meton!




