PASURUAN – Di tengah ancaman krisis iklim yang mengganggu siklus pembungaan vegetasi, para peternak lebah di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, membuktikan bahwa pelestarian alam berbanding lurus dengan ketahanan ekonomi. Desa Welulang, Banjarimbo, Panditan, hingga Watulumbung selama puluhan tahun konsisten merawat ekosistem demi menjaga kelangsungan budidaya madu murni.
Tiagus (45), salah satu peternak kawakan di Desa Welulang, telah dua dekade menggantungkan hidup pada lebah Apis mellifera. Fokus utamanya adalah madu randu—komoditas yang paling diburu karena keunggulan aroma dan khasiatnya. Dari 100 kotak koloni, Tiagus mampu mengekstraksi hingga 5 kwintal madu segar dalam satu siklus panen raya.
Namun, produktivitas ini sangat bergantung pada integritas vegetasi di sekitarnya. “Rasa dan kekentalan madu sangat dipengaruhi oleh nektar bunga seperti randu, mangga, hingga kopi, serta kondisi cuaca saat musim berbunga,” jelas Tiagus, Senin, 23 Februari 2026. Hal ini menunjukkan betapa sensitifnya ekonomi perlebahan terhadap perubahan mikro-iklim di wilayah Pasuruan.
Camat Lumbang, Didik Surianto, melihat aktivitas ini sebagai prospek cerah bagi ekonomi kerakyatan berbasis lingkungan. Ia mencatat bahwa permintaan sering kali melampaui kapasitas produksi peternak, terutama saat pembeli dari luar daerah mulai menyerbu langsung ke sentra produksi.
Bagi GET PLANET, fenomena di Lumbang adalah prototipe ideal sektor jasa ekosistem; di mana masyarakat melindungi vegetasi agar lebah tetap berproduksi, dan lebah memberikan imbal hasil ekonomi yang berkelanjutan.
Verified Source: InfoPublik.id
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Lombok Utara dan Diplomasi Kurma: Langkah Berani atau Sekadar Mimpi?



