SAAT RUDAL-RUDAL Iran mulai hobi “mengetuk pintu” sistem THAAD Amerika di Yordania dan Washington mulai sibuk cari teman buat dikerjain bareng, Indonesia rupanya sudah punya jurus sakti. Presiden Prabowo Subianto, dengan gaya tenang khas jenderal yang sudah kenyang makan asam garam politik, menegaskan bahwa Indonesia ogah ikut-ikutan masuk ke dalam ring tinju. “Kami ada di jalur yang tak memihak,” tegasnya. Kalimat yang kalau diterjemahkan ke bahasa tongkrongan artinya: “Kalian berantem saja sana, kami mau fokus jualan nikel dan beresin urusan domestik.”
Sikap Indonesia ini ibarat orang yang lagi makan bakso di pinggir jalan, lalu di depannya ada tawuran antar geng. Bukannya ikut lempar batu, Indonesia malah sibuk nambah sambal sambil sesekali melirik apakah ada batu nyasar yang bakal kena mangkoknya. Prabowo paham betul, memihak Trump itu risikonya dianggap “boneka Barat” oleh publik sendiri, tapi memihak Iran juga bukan ide bagus kalau nggak mau kena sanksi ekonomi yang bikin harga iPhone makin nggak masuk akal. Jadi, mendingan kita jadi “penonton budiman” yang sesekali kasih saran perdamaian yang kemungkinan besarnya cuma bakal masuk telinga kiri keluar telinga kanan para pemimpin dunia.
Namun, jalur “tak memihak” ini bukannya tanpa tantangan. Saat media asing mulai ribut soal ancaman RI keluar dari Board of Peace bikinan Trump, posisi Prabowo makin terlihat seperti sedang berjalan di atas tali tipis. Di satu sisi kita harus terlihat berwibawa sebagai pemimpin negara Muslim terbesar, di sisi lain kita harus tetap manis di depan investor. Strategi ini bikin banyak pihak di luar sana gemas; pengen narik Indonesia ke kubu mereka, tapi Jakarta malah asyik main gaya “bebas aktif” yang fleksibelnya ngalahin instruktur yoga. Intinya, Prabowo sedang bilang: “Maaf ya, agenda kami lagi penuh buat urus negara, silakan lanjut perangnya, tapi kalau bisa jangan dekat-dekat sini.”
“Menjadi netral itu bukan berarti penakut, tapi berarti kita cukup pintar untuk tahu kalau di antara dua gajah yang bertarung, yang paling capek itu biasanya rumput yang diinjak-injak. Dan Indonesia ogah jadi rumputnya.”— AMBARA SATIRE INDEX




