KABUPATEN DOMPU mendadak jadi panggung opera sabun yang lebih panas dari suhu udara NTB. Bupati Dompu, yang seharusnya sibuk mengurus rakyat, kini justru sibuk jadi “selebritis” di media sosial karena isu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebijakan publik: dugaan skandal perselingkuhan dengan istri orang. Rakyat Dompu yang biasanya disuguhi berita peresmian proyek, kini harus kenyang dengan menu “gosip panas” yang bikin jari-jari netizen gatal untuk menghujat.
Skandal ini bukan sekadar urusan moral privat, tapi sudah jadi masalah kredibilitas kepemimpinan. Bayangkan, di saat daerah butuh fokus pembangunan, energi publik justru tersedot untuk menebak-nebak kebenaran drama perselingkuhan sang pemimpin. Jika biasanya Bupati bicara soal transparansi anggaran, sekarang publik justru menuntut transparansi soal “janji-janji manis” di luar jam kantor. Ini bukan lagi soal good governance, tapi sudah masuk ranah bad romance yang mencoreng marwah Bumi Nggahi Rawu Pahu.
Netizen Dompu tidak tinggal diam. Dari grup WhatsApp hingga kolom komentar Facebook, spekulasi liar terus bergulir tanpa rem. Masalahnya sederhana: jika mengurus komitmen pribadi saja sudah “bocor”, bagaimana rakyat bisa percaya komitmen sang Bupati dalam mengurus janji kampanye? Jika isu ini benar, maka Dompu bukan lagi sedang mengalami krisis ekonomi, tapi krisis keteladanan di mana kursi kekuasaan justru dipakai untuk menggoyang keutuhan rumah tangga orang lain.
Namun, di balik riuhnya jempol netizen yang sudah telanjur “menghakimi”, kita juga harus ingat bahwa politik itu sekotor air selokan yang tersumbat. Jika ternyata isu “pagar ayu” ini hanyalah fitnah yang digoreng demi menjatuhkan elektabilitas, maka kita sedang menyaksikan drama komedi paling jahat tahun ini. Menyerang integritas pribadi dengan isu selingkuh adalah cara paling malas—tapi paling ampuh—untuk menghancurkan karier seseorang tanpa perlu adu program kerja.
Jika benar ini fitnah, maka sang Bupati bukan lagi aktor dalam bad romance, melainkan korban dari kanibalisme politik yang haus darah. Publik Dompu pun harus cerdas: apakah kita sedang membela moralitas, atau kita cuma sedang disuapi “sampah visual” agar lupa menagih janji-janji kampanye yang belum lunas? Pada akhirnya, waktu yang akan membuktikan apakah kursi Bupati sedang digoyang isu ranjang, atau justru sedang digerogoti rayap politik yang menyamar jadi pejuang moral.
“Menilai pemimpin dari selingkuhannya itu memang receh, tapi membiarkan pemimpin merusak pagar ayu orang lain adalah bentuk degradasi moral yang nggak bisa diselesaikan pakai bagi-bagi bansos.”— AMBARA SATIRE INDEX
Daripada Ngurusin Pagar Ayu yang Digondol Orang




