SELAMAT DATANG di Indonesia tahun 2026, sebuah negeri di mana kalau kamu tidak setuju dengan kebijakan “langit”, pilihannya cuma dua: diam seribu bahasa atau siap-siap “mandi” cairan kimia di tengah jalan. Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS, baru saja membuktikan bahwa membahas remiliterisasi di podcast YLBHI itu risikonya jauh lebih besar daripada membahas teori konspirasi Bumi Datar di grup WhatsApp keluarga. Alih-alih mendapatkan sanggahan intelektual yang elegan atau rilis bantahan yang berwibawa, Andrie malah dikasih “suvenir” berupa siraman air keras di kawasan Salemba. Sepertinya, bagi sebagian orang, argumen Andrie itu begitu tajam sampai mereka merasa perlu melunakkannya dengan asam sulfat.
Cara mainnya pun sungguh sangat “ninja” sekali, khas pengecut yang hobi main belakang. Dua orang berboncengan motor—yang menurut rekaman CCTV sempat putar balik buat memastikan target—langsung beraksi begitu berpapasan. Shuuut… cairan kimia mendarat telak di wajah, mata, dan dada Andrie. Klasik banget, kan? Modus yang biasanya muncul kalau pelakunya sudah kehabisan kata-kata di meja debat. Ini semacam pesan singkat dari kegelapan yang berbunyi: “Jangan macam-macam sama isu militer kalau tidak mau wajahmu direnovasi paksa oleh zat kimia.” Sebuah gaya diplomasi jalanan yang bikin kita bertanya-tanya, apakah kita ini sedang hidup di negara hukum atau di set film dokumenter tentang kartel narkoba.
Kita semua tahu, Andrie dan KontraS belakangan ini lagi rajin-rajinnya bersuara soal penolakan revisi UU TNI sejak 2025 lalu. Isu yang sensitifnya melebihi kulit bayi yang kena biang keringat. Membahas kembalinya militer ke ranah sipil itu ibarat lagi memegang kabel telanjang; kalau tidak hati-hati, ya kesetrum. Tapi dalam kasus Andrie, dia tidak cuma kesetrum, tapi disiram air keras. Ini adalah puncak komedi tragis demokrasi kita: saat aktivis HAM bicara soal supremasi sipil, ada pihak lain yang justru merasa “kenyamanannya” terancam hanya karena sebuah kritik, lalu membalasnya dengan cara yang paling purba dan biadab.
Lucunya (atau ngerinya), serangan ini terjadi tepat di jantung Jakarta, kawasan Salemba yang seharusnya penuh dengan seliweran aparat. Tapi ya begitulah, pelaku teror terhadap aktivis di negeri ini biasanya punya kemampuan stealth tingkat dewa. Mereka bisa menghilang secepat janji kampanye setelah pemilu selesai. Kita jadi rindu melihat polisi segesit saat menciduk penjual kaos yang gambarnya dianggap menghina, atau secepat saat mengamankan mahasiswa yang cuma bawa spanduk di pinggir jalan. Kalau buat urusan air keras begini, biasanya prosesnya bakal jadi serial panjang yang ending-nya digantung kayak jemuran kehujanan.
Sekarang Andrie harus terbaring di RSCM, menunggu operasi mata karena jaringan selnya rusak dimakan cairan sialan itu. Bayangkan, mata yang digunakan untuk melihat ketidakadilan itu sekarang harus ditutup perban karena ada yang ketakutan kebobrokannya dilihat terlalu jelas. Ini bukan cuma soal luka fisik, ini soal simbol. Mereka mau bilang bahwa siapa pun yang berani melihat terlalu tajam ke arah kekuasaan, matanya harus dibikin buram. Sebuah teknik pembungkaman yang sangat biokimiawi, bukan? Sangat futuristik sekaligus primitif di saat yang bersamaan.
Kita tunggu saja bagaimana kelanjutannya. Apakah polisi akan berhasil menangkap pelakunya dalam hitungan hari, ataukah kita akan disuguhi drama “salah sasaran” atau alasan “tidak sengaja menyiram” yang legendaris itu? Di Indonesia, keadilan itu kadang mirip kayak hilal di akhir Ramadan; seringkali sulit terlihat kalau mendung politiknya lagi tebal-tebalnya. Sementara itu, buat kalian yang masih punya nyali buat jadi aktivis, saran saya cuma satu: mulai sekarang, selain membawa draf undang-undang dan data pelanggaran HAM, jangan lupa pakai helm full face dan jas hujan anti-asam setiap kali pulang kerja.
Satu hal yang pasti, teror ini justru membuktikan bahwa apa yang dikritik Andrie dan KontraS itu benar adanya. Bahwa ada kekuatan yang sangat alergi dengan kontrol sipil sampai-sampai harus mengirim “pesan kimia” lewat jalanan gelap. Kalau argumen mereka benar, kenapa harus pakai air keras? Kenapa tidak pakai data tandingan saja? Jawabannya sederhana: karena air keras tidak butuh otak buat bekerja, cuma butuh rasa benci dan mentalitas pecundang yang tidak siap hidup dalam demokrasi.
“Menyiram air keras ke wajah aktivis adalah pengakuan paling jujur bahwa kamu sudah kalah debat secara intelektual. Di negeri yang katanya merdeka, kebebasan berbicara ternyata masih dibatasi oleh tingkat keasaman cairan kimia.”— AMBARA SATIRE INDEX
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Trump Nyetir Amerika, Tapi Rem dan Gasnya Dipegang Netanyahu?



