JAKARTA — Ruang bermain digital yang seharusnya menjadi arena kreativitas kini berubah menjadi labirin berbahaya bagi generasi masa depan. Platform gim populer seperti Roblox hingga komunitas daring lainnya terpantau rawan disusupinya predator seksual yang memanfaatkan celah pengawasan siber. Fenomena ini memicu alarm keras atas kegagalan kolektif dalam melindungi anak-anak di ruang siber Indonesia.
Celah “Grooming” dan Lemahnya Kontrol
Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, mengungkap sisi gelap transformasi digital. Menurutnya, kebebasan tanpa kontrol memadai menciptakan celah bagi predator untuk melakukan grooming sistematis. Dengan modal murah seperti hadiah koin virtual atau item gim, pelaku menyusup, membangun kedekatan emosional, hingga mengeksploitasi korban tanpa batas geografis.
Kegagalan Kolektif Tata Kelola
Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, menilai fenomena ini bukan sekadar problem teknis, melainkan kombinasi lemahnya regulasi dan kelalaian platform. Testimoni korban seperti Kyna (16) dan Chubi mengonfirmasi betapa mudahnya komunikasi lintas usia diarahkan ke tindakan pornografi hingga bujukan pertemuan fisik.
Pemerintah kini dituntut untuk melakukan intervensi sistematis. Tidak cukup hanya dengan literasi, penyedia aplikasi harus dipaksa secara hukum untuk melakukan monitoring aktif dan memblokir akun pelaku eksploitasi. Tanpa penegakan aturan yang agresif, transformasi digital Indonesia hanya akan menyisakan trauma bagi generasi penerus.
“Dunia digital adalah samudera tanpa tepi; tanpa kompas moral keluarga dan pagar regulasi negara, anak-anak kita akan hanyut sebagai mangsa di perairan yang paling tenang sekalipun.”
— GET !NSIGHT DOGMA DIGITAL —
Verified Report: Analisis Keamanan Siber Vaksincom & CISSReC (Update Januari 2026).




