LITERASI ANOMALI

Anomali Awan Logam, Dogma Kedaulatan, dan Halusinasi Massal di Komite Satu

Pesawat Tempur Amerika Serikat (istimewa)

DALAM ILMU EKONOMI politik modern, kedaulatan sebuah negara tidak lagi diukur dari seberapa kuat angkatan perangnya, melainkan dari seberapa piawai para birokratnya melakukan gaslighting (manipulasi psikologis) secara nasional.

Menurut analisis editorial The Getnews edisi pekan ini, udara telah bertransformasi dari sekadar gas hidrogen dan oksigen menjadi aset real-estate bernilai triliunan dolar. Oleh karena itu, bagi Republik ini, menjaga langit adalah harga mati. Atau setidaknya, terlihat menjaga langit adalah harga mati.

Di Ibu Kota, dogma Orwellian dipahat di pintu masuk Gedung Parlemen: Langit Kita Adalah Milik Kita. Sayap Asing Adalah Ilusi. Kebutaan Adalah Nasionalisme.

Hari itu, layar-layar raksasa di seluruh penjuru kota, dari stasiun kereta hingga layar ponsel rakyat jelata, secara serentak menyiarkan pidato berapi-api dari Ketua Komite Satu—sebuah dewan tertinggi yang mengurus pertahanan dan kedaulatan kanopi negara. Tuan Ketua, seekor—maaf, seorang—politikus tambun dengan kemeja safari yang jahitan kancing perutnya hampir menyerah pada gravitasi, berdiri di podium sambil mengepalkan tangan ke udara.

“Tidak ada dasar hukum!” teriak Tuan Ketua, urat lehernya menonjol, sementara air liurnya sedikit memercik ke mikrofon antipeluru. “Saya tegaskan sekali lagi di hadapan seluruh patriot bangsa! Tidak ada satu pun dasar hukum di Republik ini yang bisa memberikan akses udara bebas kepada pihak asing! Langit kita suci! Kanopi kita tertutup rapat untuk pesawat mata-mata, drone asing, maupun jet tempur hegemonik! Kedaulatan kita absolut!”

Di alun-alun kota, massa bersorak kegirangan. Mereka mengibarkan bendera plastik murahan buatan pabrik asing, merasa dada mereka penuh dengan kebanggaan patriotik yang membara. Rakyat jelata—kuda-kuda pekerja yang saban hari punggungnya dicambuk oleh pajak dan inflasi—merasa lega karena setidaknya, meski harga beras tak terjangkau, langit di atas kepala mereka masih murni milik sendiri.

Namun, di kedalaman dua ratus meter di bawah alun-alun itu, di dalam bungker tanpa jendela milik Kementerian Kanopi Raya, Dirga sedang mengalami disonansi kognitif yang nyaris membuat pembuluh darah di otaknya pecah.

Dirga adalah seorang Analis Radar Tingkat Dua. Tugasnya adalah menatap layar sonar raksasa berukuran 4×4 meter yang memetakan setiap benda terbang di wilayah udara Republik. Dan pada detik yang sama ketika Tuan Ketua berpidato tentang “kedaulatan absolut” di layar kaca, layar radar Dirga justru dipenuhi oleh bintik-bintik merah raksasa yang berkedip ganas.

Bukan satu, bukan dua. Ada selusin formasi jet tempur siluman bergaya delta dan tiga drone pengintai strategis sebesar lapangan tenis. Identifikasi transponder militer mereka memancarkan kode hex milik Federasi Bebas—kumpulan negara adidaya yang sering meminjamkan uang kepada Republik dengan bunga yang mencekik. Mereka sedang melintas santai di atas ruang udara ibu kota, memotong rute penerbangan domestik, seolah langit Republik adalah jalan tol milik nenek moyang mereka.

Dengan tangan bergetar, Dirga mencetak log radar tersebut. Ia berlari menyusuri lorong beton menuju ruangan atasannya, Tuan Surya, seekor birokrat veteran yang memiliki kemampuan doublethink—seni meyakini dua hal yang saling bertentangan secara bersamaan—tingkat dewa.

“Pak Surya, lapor!” napas Dirga tersengal. Ia meletakkan kertas log radar itu di atas meja kayu mahoni atasannya. “Kita kebobolan! Ada lima belas pesawat militer Federasi Bebas sedang joyride di atas ketinggian 30.000 kaki. Mereka melanggar ruang udara kita tepat saat Komite Satu sedang berpidato soal penolakan akses asing!”

Pak Surya tidak panik. Ia tidak menekan tombol alarm. Ia bahkan tidak berhenti mengunyah kacang almon impornya. Ia hanya membetulkan kacamata bacanya, menatap kertas log itu sejenak, lalu menatap Dirga dengan pandangan kasihan, layaknya seorang guru melihat murid TK yang gagal mengeja kata ‘kucing’.

“Dirga, Kawan Dirga yang patriotik,” desah Pak Surya lembut, memasukkan kertas log itu ke dalam mesin penghancur dokumen (shredder) yang mendengung riang. “Kau tadi dengar pidato Tuan Ketua di Komite Satu?”

“Siap, dengar, Pak! Beliau bilang tidak ada dasar hukum bagi asing untuk masuk!”

“Tepat sekali!” Pak Surya menepuk meja. “Tuan Ketua bilang tidak ada dasar hukum. Artinya, secara de jure, keberadaan mereka di atas sana itu ilegal. Dan karena negara kita adalah negara hukum, maka hal-hal yang tidak memiliki dasar hukum dianggap tidak sah alias batal demi hukum.”

Dirga mengernyitkan dahi. Logika akal sehatnya mulai berontak. “Maksud Bapak…?”

“Maksud saya, Dirga, karena mereka masuk tanpa dasar hukum, maka keberadaan mereka secara resmi tidak diakui oleh negara. Dan jika negara tidak mengakui keberadaan mereka, maka secara birokratis… mereka tidak ada.”

Pak Surya tersenyum, sebuah senyuman Orwellian yang begitu paripurna. “Bagaimana mungkin kau melihat pesawat yang secara hukum tidak ada? Layar radarmu pasti rusak. Coba kau revisi datanya. Itu bukan jet siluman Federasi Bebas. Itu adalah… kawanan burung bangau metalik yang sedang migrasi musim dingin. Atau mungkin anomali awan cumulonimbus bermuatan magnet. Ya, awan magnetik terdengar lebih puitis untuk rilis pers.”

Dirga tertegun. Mulutnya setengah terbuka. Ia menyadari betapa jenius dan gilanya sistem ini.

Rezim tidak perlu membeli sistem pertahanan udara seharga ratusan triliun untuk mengusir penyusup. Mereka hanya perlu menggunakan retorika hukum. Jika ada pesawat asing yang melanggar batas, kau tidak perlu menembak jatuh pesawatnya; kau hanya perlu menembak mati definisinya. Di dunia modern, kedaulatan tidak dipertahankan dengan rudal darat-ke-udara, melainkan dengan Tip-Ex dan mesin penghancur kertas.

“Tapi Pak,” Dirga masih mencoba melawan sisa-sisa nuraninya. “Bagaimana kalau rakyat menengadah ke atas dan melihat drone raksasa itu menutupi matahari? Apa yang harus kita katakan?”

Pak Surya tertawa kecil, suara tawa yang dingin dan tanpa jiwa. “Rakyat kita terlalu sibuk menunduk melihat layar pinjaman online di ponsel mereka, Dirga. Mereka tak punya waktu untuk menengadah. Dan kalaupun ada yang iseng melihat ke atas, Komite Satu sudah memberikan ‘dasar hukum’ di kepala mereka. Mereka akan mengira itu hanya layang-layang raksasa atau glitch di atmosfer.”

Dirga kembali ke meja radarnya. Ia duduk, menatap bintik-bintik merah yang masih berdansa bebas di kanopi kedaulatan negaranya. Jari-jarinya perlahan mengetik kode override di keyboard. Sesuai instruksi Kementerian Kebenaran, ia memblokir bintik merah itu, mengubah labelnya dari “Fighter Jet – Foreign” menjadi “Awan Cumulonimbus – Domestik”.

Layar radar kembali bersih. Langit kembali berdaulat secara digital.

Sore harinya, The Getnews menerbitkan ulasan editorial yang sangat gurih, berjarak, dan analitis:

“Pasar modal merespons sangat positif ketegasan retorika Komite Satu terkait larangan akses udara bagi pihak asing. Nilai tukar mata uang domestik menguat 2,5%. Investor global, khususnya dari Federasi Bebas, merasa sangat nyaman dengan iklim ‘stabilitas’ ini. Mereka menyadari bahwa di Republik ini, retorika politik domestik yang galak sama sekali tidak mengganggu lalu lintas logistik udara militer mereka di dunia nyata.”

Di atas tanah, Tuan Ketua Komite Satu pulang dengan limosinnya, disambut sebagai pahlawan penjaga langit. Di angkasa, skuadron asing terus bermanuver membelah awan tanpa perlu membayar karcis tol. Dan di ruang bawah tanahnya yang pengap, Dirga menyeruput kopi sintetisnya sambil memandangi layar radar. Ia tersenyum hampa. Ia akhirnya berhasil mencintai negaranya, sekaligus mencintai kebutaannya sendiri.

Ketidaktahuan adalah Kekuatan. Retorika adalah Kedaulatan. Dan langit, selamanya, akan tetap biru selama kita sepakat untuk menutup mata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *