LITERASI ANOMALI

Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai – Bagian 2

Oleh: Emha Firmansyah

​Bagian I: Kursus Kilat di Ruang Pengap

​Di dalam gua yang pengap oleh uap tanah, Tan Malaka menorehkan beberapa baris kalimat terakhir di atas tumpukan kertasnya. Ia sesekali melirik Rian yang masih terduduk linglung di sudut batu.

​“Jadi begini, anak muda,” kata Tan Malaka sambil menyeka peluh di dahinya dengan lengan kemeja yang sudah kumal. “Materialisme dalam Madilog itu bukan berarti kau menjadi hamba harta yang serakah. Bukan. Materialisme artinya kau melihat dunia apa adanya, secara objektif. Bukan lewat kacamata dongeng atau mistisisme.”

​Ia mengetuk meja kayu reyotnya dengan ujung pensil yang sudah tumpul.

​”Kalkulasikan: berapa gaji buruh? Berapa margin keuntungan pemilik konsesi tambang? Mengapa petani di atas tanah paling subur justru menjadi golongan yang paling kelaparan? Itu semua bukan kutukan dewa atau takdir yang ditulis di langit. Itu adalah matematika ekonomi yang sengaja salah urus.”

​Rian mengangguk pelan, mendengarkan seperti seorang pesakitan yang baru menyadari kesalahannya. “Lalu, bagaimana dengan Dialektika, Bang?”

​“Dialektika mengajarkan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini bergerak dan berubah karena adanya benturan kontradiksi,” sahut Tan dengan mata berbinar. “Kemiskinan itu bukan kodrat statis. Ia lahir dari pertentangan riil antara mereka yang menguasai alat produksi dan mereka yang hanya memiliki tenaga untuk diperas. Sejarah tidak akan bergeser satu inci pun hanya dengan ratapan doa, melainkan dengan memahami dan menyelesaikan kontradiksi material tersebut.”

​Tan Malaka tersenyum sinis, menatap tajam ke arah kaos Rian.

​“Dan Logika? Itu adalah tameng sekaligus senjatamu. Jika kelak penguasa di zamanmu berkata, ‘Anggaran kita sudah triliunan, tapi atap sekolah dasar di pelosok masih bocor’, maka gunakan logikamu untuk bertanya: ke mana larinya angka-angka itu? Jangan melarikan diri dengan jawaban mistis: ‘Mungkin ini sudah cobaan dari Tuhan’.”

​Sayup-sayup dari kejauhan, seberkas cahaya senter memotong kegelapan malam. Langkah sepatu laras Kempeitai Jepang terdengar semakin mendekat ke arah celah gua.

​“Waktumu habis,” bisik Tan Malaka cepat, sambil mengemasi kertas-kertas berharganya. “Kembalilah ke zamanmu. Dan ingat satu hal: jangan hanya mengutip Madilog. Hidupkan ia dalam kenyataan.”

​Seketika, ruang di sekitar Rian terdistorsi hebat. Bau tanah basah dan mesiu tahun 1943 lenyap, digantikan semerbak aroma kopi saset dan bising knalpot motor di jalanan Yogyakarta tahun 2026.

​Bagian II: Komodifikasi dan Kelas Filsafat

​Dua belas jam kemudian, Rian berdiri di koridor ruang kuliah dengan energi yang berbeda. Di dekapannya ada bundel fotokopi Madilog yang sengaja ia cetak semalam dengan format seadanya.

​Hari ini adalah jadwal mata kuliah “Filsafat Kontemporer dan Pembangunan Nasional”.

​Dosen pengampu mereka, Bu Siti, melangkah masuk ke kelas dengan anggun. Tas jinjing bermerek desainer Paris—yang keasliannya patut dipertanyakan—diletakkan di atas meja, disusul senyuman formal yang biasa ia gunakan untuk dokumentasi proyek penelitian.

​“Anak-anak,” buka Bu Siti dengan suara yang diatur sedemikian persuasif. “Hari ini kita akan membahas bagaimana konsensus nasional mampu menjadi solusi bagi setiap riak sosial di tengah modernisasi bangsa.”

​Rian langsung mengangkat tangan sebelum Bu Siti sempat membuka salindia presentasinya. Semangat dialektika dari gua Bayah masih membakar dadanya.

​“Bu, merujuk pada analisis Tan Malaka, pembangunan nasional akan selalu menjadi sandiwara jika kita masih memelihara Logika Mistika—yaitu menganggap ketimpangan sebagai takdir,” interupsi Rian tegas. “Bagaimana kita bicara harmoni jika faktanya nikel kita dikuras habis dalam bentuk mentah, buruh lokal diberi upah murah, sementara surplus ekonominya dilarikan ke luar negeri? Ini adalah kontradiksi material yang nyata, Bu. Tidak bisa diselesaikan hanya dengan retorika kebersamaan.”

​Ruang kelas mendadak senyap. Rekan-rekan kuliahnya menoleh dengan tatapan campur aduk antara kagum dan cemas.

​Bu Siti mempertahankan senyumnya, meski sorot matanya menegang. “Mas Rian, pemikiran tokoh masa lalu tentu punya tempat dalam sejarah. Namun, kita harus berpikir kontekstual di era digital ini. Pemerintah sudah merancang semuanya dengan regulasi yang harmonis. Kemiskinan sering kali terjadi karena sebagian masyarakat kurang memiliki regulasi diri, kurang bersyukur, dan malas berinovasi. Jangan terlalu materialistis, nanti bisa terjebak pada pemikiran ekstrem yang anti-kemapanan.”

​Beberapa mahasiswa di barisan depan mengangguk takzim.

​Budi, mahasiswa yang profil X-nya dipenuhi foto liburan di kelab malam Bali, ikut menimpali. “Betul, Bu. Lagian hari gini kok masih mikirin pertentangan kelas? Gue pribadi lebih percaya filsafat manifesting dan law of attraction. Lo bayangin energi positif, lo sebar visual yang estetik di medsos, rezeki bakal datang sendiri. Kemarin gue cuma posting foto di pantai, langsung dapet endorse kok. Enggak usah bikin hidup jadi ribet pakai dialektika segala.”

​Rian hampir tersedak ludahnya sendiri. “Bro, petani di desa gue panen berton-ton gabah tapi terlilit utang tengkulak karena harga pasar dimainkan. Mereka mau manifesting pakai apa? Membayangkan traktor jatuh dari langit?”

​Tawa getir pecah di sudut-sudut kelas. Bu Siti segera mengetuk meja dengan pulpennya. “Cukup. Diskusi kita hari ini diarahkan untuk membangun stabilitas pemikiran, bukan memprovokasi benturan sosial. Kita lanjutkan ke materi selanjutnya.”

​Bagian III: Jamur di Ruang Gelap

​Rian keluar dari ruang kelas dengan dada yang bergemuruh menahan dongkol. Di kantin, ia mencoba mengumpulkan beberapa temannya yang sedang asyik menatap layar ponsel masing-masing.

​“Gue mau bikin diskusi kecil minggu depan di selasar,” kata Rian antusias. “Kita bedah struktur ekonomi kampus. Kita hitung berapa gaji riil petugas kebersihan di sini, dan kenapa kontrak kerja mereka selalu diputus tiap sebelas bulan. Kita pakai pisau analisis Madilog.”

​Teman-temannya saling pandang dengan ekspresi canggung.

​“Aduh, Rian… minggu depan jadwal kita padat,” sahut salah satu temannya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. “Grup sebelah lagi koordinasi buat aksi di Malioboro. Tapi bukan soal buruh kampus sih. Kita mau demo nuntut rektorat biar bandwidth WiFi dipercepat. Susah live TikTok kalau jaringannya lemot begini.”

​Rian memegangi kepalanya, merasa asing di tengah generasinya sendiri.

​Malam harinya, di dalam kamar kos yang sempit, Rian kembali membuka lembaran Madilog. Di layar ponselnya, sebuah notifikasi berita nasional muncul: “Pemerintah Klaim Hilirisasi Berhasil, Janjikan Lompatan Ekonomi Menuju Indonesia Emas.”

​Ia menggulir ke kolom komentar. Isinya seragam:

“Alhamdulillah, semua sudah diatur Yang Maha Kuasa.”

“Kerja keras, rebahan kurangi, perbanyak doa pasti sukses.”

​Rian tertawa pahit sendirian di kegelapan kamar. “Bang Tan… ternyata perang di zaman ini jauh lebih melelahkan daripada bersembunyi dari militer Jepang. Musuh kami bukan lagi moncong bayonet, melainkan kenyamanan berpikir yang sudah mendarah daging.”

​Tepat di sudut kamarnya yang remang, bayangan siluet seorang pria berkacamata bulat seakan melintas sepersekian detik—entah itu manifestasi dari kelelahan mentalnya, atau sisa distorsi waktu yang belum genap menutup.

​“Teruskan, Rian,” sebuah bisikan samar seolah bergema di kepalanya, diiringi nada jenaka yang khas. “Logika Mistika itu seperti jamur di tempat lembap. Sekali ia tumbuh, akarnya mencengkeram dalam. Tapi ingat, jamur sekuat apa pun akan mati begitu terpapar sinar matahari akal sehat.”

​Siluet itu lenyap bersama embusan angin malam dari jendela yang terbuka.

​Rian menarik napas dalam-dalam, lalu menutup ponselnya rapat-rapat. “Baiklah. Besok kita mulai dari hal paling kecil. Mengganggu kenyamanan tidur mereka.”

(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *