JAKARTA — Bagi para pengamat kebijakan moneter, data terbaru dari Bank Indonesia (BI) bukan sekadar barisan angka statistik; ini adalah denyut nadi ekonomi yang tengah mencari keseimbangan baru. Pertumbuhan Uang Primer (M0) Adjusted sebesar 14,7% (yoy) pada Januari 2026 mengungkapkan sebuah narasi tentang sistem perbankan yang kokoh namun penuh kewaspadaan. Meski melambat dari puncaknya di bulan Desember sebesar 16,8%, total volume likuiditas sebesar Rp2.193 triliun menandakan bahwa mesin moneter nasional tetap bekerja optimal.
Anatomi Likuiditas
Pendorong utama ekspansi ini adalah lonjakan tajam pada Giro Bank Umum di Bank Indonesia (adjusted) yang melesat 30,1% (yoy). Angka ini mencerminkan tumpukan cadangan yang tebal di sektor perbankan komersial—sebuah “benteng likuiditas” yang sengaja dibangun untuk menghadapi volatilitas pasar global. Sebaliknya, pertumbuhan Uang Kartal yang Diedarkan tumbuh lebih tenang di angka 12,4% (yoy), mempertegas tren digitalisasi di mana nilai ekonomi lebih banyak berputar dalam ekosistem digital ketimbang dompet fisik.
Vonis Akhir
Bagi Bank Indonesia, pertumbuhan ini adalah aksi penyeimbangan yang rumit (delicate balancing act). Likuiditas yang melimpah menjamin stabilitas sistem keuangan, namun juga membawa risiko pemanasan inflasi jika tidak dikelola dengan presisi. BI diprediksi akan tetap mempertahankan kaki pada pedal rem melalui kebijakan suku bungan, sembari memastikan pasokan bahan bakar likuiditas tetap mengalir ke sektor riil.
Verified Source: bi.go.id




