LITERASI ANOMALI

H2SO4, Cinta, dan Mata yang Lupa Cara Menangis

Di Negara Kesatuan Konoha Raya, cinta adalah sejenis kejahatan pikiran (thoughtcrime). Kementerian Cinta Kasih telah lama menetapkan bahwa satu-satunya bentuk kasih sayang yang sah adalah ketaatan mutlak kepada “Bapak Pelindung”—sosok berwajah agung yang poster raksasanya menatap tajam dari setiap sudut ibu kota dengan semboyan: Keseragaman adalah Kekuatan. Berpikir adalah Ancaman. Cacat adalah Kesempurnaan.

Di bawah bayang-bayang baliho tersebut, hidup seorang perwira muda bernama Yudha. Ia adalah satu dari empat anggota regu elite “Kuartet Pembersih”—sebuah unit rahasia lintas matra yang terdiri dari perwakilan Penjaga Darat, Penjaga Laut, Penjaga Udara, dan Penjaga Bayangan. Tugas mereka sederhana: memastikan orang-orang yang berbicara terlalu keras kehilangan pita suaranya, secara harfiah maupun kiasan.

Yudha adalah abdi negara yang sempurna, setidaknya sampai mesin algoritmanya menangkap suara Kirana.

Kirana bekerja di sebuah organisasi bawah tanah yang oleh Negara dicap sebagai sarang parasit: Komite Transparansi Suara (sebuah entitas subversif yang di masa lalu mungkin mirip dengan KontraS). Kirana tidak memegang senjata. Senjatanya jauh lebih mematikan bagi rezim: ia memiliki ingatan. Ia mencatat nama-nama mereka yang diculik, mereka yang diseret ke dalam van hitam tak berpelat, dan mereka yang tak pernah pulang saat makan malam.

Yudha awalnya hanya ditugaskan menyadap saluran komunikasi Kirana. Namun, berjam-jam mendengar suara wanita itu membacakan puisi perlawanan dan mendata para korban, sebuah anomali tumbuh di dada kiri sang perwira. Ia jatuh cinta. Itu adalah cinta yang bodoh, berbahaya, dan sepenuhnya bertepuk sebelah tangan.

Suatu malam yang diguyur hujan asam buatan Kementerian Cuaca, Yudha melanggar protokol. Ia menemencegat Kirana di sebuah kedai kopi bawah tanah yang sepi. Dalam balutan jas hujan abu-abu yang menutupi seragam militernya, Yudha mengutarakan perasaannya. Ia menawarkan perlindungan. Ia memohon agar Kirana berhenti bicara tentang hak asasi manusia dan lari bersamanya ke Zona Pinggiran.

Kirana menatapnya dengan sepasang mata cokelat yang tajam, mata yang terlalu berani untuk hidup di Negara Kesatuan Raya. Ia melihat sepatu lars Yudha, lalu tersenyum getir.

“Kau tahu mengapa aku tidak akan pernah bisa mencintaimu, Kawan Yudha?” bisik Kirana, suaranya sedingin baja. “Cinta tidak bisa tumbuh di tanah yang disiram darah kawan-kawanku oleh sepatu lars yang kau pakai. Kau bukan manusia. Kau hanya sekrup dari mesin pemotong rumput yang meratakan kami.”

Penolakan itu tidak membunuh Yudha, tapi merusak sirkuit logikanya. Doublethink (pemikiran ganda) perlahan merasuki otaknya. Ia mulai meyakinkan dirinya sendiri: Jika aku tidak bisa memilikinya sebagai seorang pembangkang, aku harus menyelamatkannya dengan menjadikannya warga negara yang patuh.

Tiga minggu kemudian, sebuah map merah berlogo Kementerian Cinta Kasih mendarat di meja Kuartet Pembersih. Ada foto Kirana di dalamnya. Status: Target Liquidasi Edukatif.

“Bapak Pelindung tidak ingin peluru,” ujar komandan regu dari Penjaga Darat sambil menghisap cerutu. “Peluru hanya akan membuatnya menjadi martir. Negara tidak butuh pahlawan mati. Negara butuh contoh hidup tentang apa yang terjadi jika mulut terlalu lebar.”

Komandan itu meletakkan sebuah botol kaca berisi cairan kental tak berwarna. H2SO4 murni. Asam sulfat. Dalam kamus Negara, cairan itu disebut “Air Pencerah”.

Yudha terpaku. Tiga rekannya dari matra lain menatapnya. Sebagai perwira termuda, tradisi menuntut Yudha yang harus menjadi eksekutor. Jika ia menolak, ia akan diindikasi sebagai pengkhianat, dan besok namanya, beserta nama keluarganya, akan dihapus dari catatan sipil seolah tak pernah lahir.

Di titik inilah, logika Orwellian Yudha mencapai puncaknya yang paling sakit. Dalam kepalanya, ia memutarbalikkan kenyataan. Cairan ini tidak akan menyakitinya, batin Yudha. Cairan ini akan membakar habis kesombongan politiknya. Jika matanya buta, ia tak akan lagi melihat keburukan Negara. Jika wajahnya hancur, ia tak akan bisa lagi tampil di mimbar. Ia akan diasingkan, sendirian, dan saat itulah… saat itulah ia akan membutuhkanku. Aku akan menjadi satu-satunya mata baginya.

Operasi itu dieksekusi pada Selasa malam. Empat pria berpakaian preman—empat oknum dari empat matra yang disatukan oleh kezaliman—mengadang Kirana di sebuah gang sempit sepulang dari kantor Komite.

Hujan turun rintik-rintik. Kirana mencoba berlari, tapi Penjaga Laut menjegal kakinya. Penjaga Udara memegang tangannya di belakang punggung. Kirana meronta, menatap lurus ke arah siluet pria keempat yang memegang botol kaca.

“Yudha…” desis Kirana. Tidak ada ketakutan di matanya, hanya rasa jijik yang luar biasa lebat. “Lakukan, Anjing Negara. Lakukan!”

Tangan Yudha bergetar hebat. Ia ingin memeluk wanita itu, tapi dogma yang ditanamkan rezim jauh lebih kuat dari nuraninya. Sambil meneteskan air mata di balik masker hitamnya, Yudha menggumamkan mantra Kementerian Cinta Kasih, “Kekerasan adalah Kasih Sayang. Kebutaan adalah Pencerahan.”

Ia menyiramkan isi botol itu tepat ke wajah yang paling ia cintai di seluruh dunia.

Jeritan Kirana malam itu tidak masuk ke dalam berita pagi. Koran Suara Keseragaman esok harinya hanya memberitakan kenaikan panen gandum dan peresmian patung baru Bapak Pelindung.

Enam bulan kemudian, Yudha datang ke Bangsal Pemulihan Negara. Ia membawa seikat bunga mawar putih plastik—karena bunga asli telah lama dilarang.

Di atas ranjang besi itu, Kirana duduk menghadap jendela yang tertutup rapat. Wajahnya kini hanya berupa lipatan luka bakar yang mengerikan, tanpa kelopak mata, tanpa bibir yang utuh. Ia telah kehilangan segalanya: penglihatannya, suaranya, dan organisasinya yang telah dibredel.

Yudha duduk di sampingnya, meraih tangan wanita itu dengan lembut.

“Ini aku, Yudha,” bisiknya parau. “Negara telah memaafkanmu. Aku ada di sini. Aku akan menjagamu selamanya.”

Kirana menoleh ke arah suara itu. Tidak ada lagi rasa jijik di sisa-sisa wajahnya. Tidak ada lagi perlawanan. Otaknya telah “dicuci bersih” oleh rasa sakit yang tak terbayangkan dan terapi kejut listrik pasca-kejadian. Ia kini adalah warga negara yang sempurna.

Dengan suara serak dan napas yang berat, Kirana meremas tangan Yudha, menyandarkan kepalanya yang berbalut perban, dan berbisik patuh.

“Terima kasih, Kawan,” gumam Kirana, mengulang kalimat yang diajarkan dokter Negara setiap pagi. “Terima kasih telah menyembuhkanku. Hidup Bapak Pelindung.”

Yudha menatap ke luar jendela yang buram. Ia akhirnya memenangkan wanitanya. Ia memilikinya seutuhnya. Namun, saat menyadari bahwa wanita di pelukannya ini hanyalah cangkang kosong yang telah ia bunuh jiwanya, Yudha menangis dalam diam. Di Negara Kesatuan Konoha Raya, bahkan cinta pun harus dihancurkan agar bisa hidup abadi.

LITERASI ANOMALI • Kebebasan mungkin bisa dibutakan, tapi ingatan akan selalu mencari jalan pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *