Di tengah gemuruh hujan yang membasahi Bumi Gora pagi ini, nama Haji Ahmad Tretetet kembali menyeruak dalam ingatan warga. Beliau bukan sekadar sosok; beliau adalah teka-teki berjalan bagi masyarakat Lombok yang lebih memilih jalur “nyeleneh” untuk menunjukkan kemuliaannya.
Jika pemerintah bicara soal “Air Bridge” atau jembatan udara untuk logistik Sumatera, Haji Tretetet sudah punya versinya sendiri puluhan tahun lalu: Jembatan Spiritual yang membuat beliau bisa berada di dua tempat berbeda dalam waktu bersamaan. Tanpa satelit, tanpa GPS.
Baca juga: Haji Ahmad Tretetet: Maestro ‘Jalur Langit’ dari Bumi Gora
Karomah ‘Treteet’ dan Filosofi Sarung
Nama “Treteet” sendiri konon berasal dari kebiasaan beliau menyapa orang dengan bunyi “Treteet… treteet…”. Beliau sering terlihat hanya menggunakan sarung, terkadang dengan cara yang sangat santai, menembus hujan tanpa terlihat basah kuyup, atau mendadak muncul di depan pintu rumah warga saat dibutuhkan.
Bagi pencinta data Getnews, berikut adalah “Audit Karomah” Haji Tretetet yang melegenda dan tetap segar diceritakan saat kopi hangat menemani hujan Anda:
AUDIT KAROMAH: SISI UNIK HAJI AHMAD TRETETET
Verified by Folk-Legend & Local Memory
CATATAN REDAKSI: Haji Tretetet adalah pengingat bahwa di atas hitungan matematis dan data teknis, ada kearifan lokal yang menjaga keseimbangan batin masyarakat Lombok. Cerita beliau adalah “penghangat” yang lebih ampuh daripada jaket tebal di musim hujan ini.




