SOSOK

Haji Tretetet: ‘Wali Nyeleneh’ dan Karomah Kilat di Tengah Hujan Mataram

Tuan Guru Haji Ahmad Tretetet, seorang tokoh agama karismatik di Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang terkenal karena cara mengajarnya yang unik (istimewa/getnews)

​Di tengah gemuruh hujan yang membasahi Bumi Gora pagi ini, nama Haji Ahmad Tretetet kembali menyeruak dalam ingatan warga. Beliau bukan sekadar sosok; beliau adalah teka-teki berjalan bagi masyarakat Lombok yang lebih memilih jalur “nyeleneh” untuk menunjukkan kemuliaannya.

​Jika pemerintah bicara soal “Air Bridge” atau jembatan udara untuk logistik Sumatera, Haji Tretetet sudah punya versinya sendiri puluhan tahun lalu: Jembatan Spiritual yang membuat beliau bisa berada di dua tempat berbeda dalam waktu bersamaan. Tanpa satelit, tanpa GPS.

Baca juga: Haji Ahmad Tretetet: Maestro ‘Jalur Langit’ dari Bumi Gora

Karomah ‘Treteet’ dan Filosofi Sarung

​Nama “Treteet” sendiri konon berasal dari kebiasaan beliau menyapa orang dengan bunyi “Treteet… treteet…”. Beliau sering terlihat hanya menggunakan sarung, terkadang dengan cara yang sangat santai, menembus hujan tanpa terlihat basah kuyup, atau mendadak muncul di depan pintu rumah warga saat dibutuhkan.

​Bagi pencinta data Getnews, berikut adalah “Audit Karomah” Haji Tretetet yang melegenda dan tetap segar diceritakan saat kopi hangat menemani hujan Anda:

AUDIT KAROMAH: SISI UNIK HAJI AHMAD TRETETET

Verified by Folk-Legend & Local Memory

AUDIT KAROMAH: SISI UNIK HAJI AHMAD TRETETET

Legenda Wali Nyeleneh dari Bumi Gora

Jenis KaromahDeskripsi KejadianLevel Keajaiban
Bilocator (Dua Tempat)Di Mataram, tapi di jam yang sama terlihat di Mekkah.High (Tanpa Jet!)
Radar BatinMengetahui masalah tamu sebelum tamu bicara.100% Accuracy
Anti-HujanMenembus badai tanpa sedikit pun basah.Spiritual Gore-Tex
Transformasi BarangBungkusan kosong mendadak berisi obat/makanan.Real Magic

CATATAN REDAKSI: Haji Tretetet adalah pengingat bahwa di atas hitungan matematis dan data teknis, ada kearifan lokal yang menjaga keseimbangan batin masyarakat Lombok. Cerita beliau adalah “penghangat” yang lebih ampuh daripada jaket tebal di musim hujan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *