JAKARTA, getnews.co.id — Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, mendesak pemerintah untuk segera mengintervensi jatuhnya harga gabah di tingkat petani yang terjadi di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Dilaporkan, harga gabah kering panen saat ini hanya menyentuh angka Rp5.700 per kilogram, jauh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram.
Daniel menilai kondisi ini ironis mengingat petani sudah bekerja keras menyelesaikan siklus produksi, namun harus menanggung rugi akibat absennya negara saat panen tiba. “Negara harus segera hadir untuk memastikan gabah petani dibeli sesuai HPP,” tegas Daniel Johan, Senin (12/1/2026).
Dashboard Harga: Defisit Gabah Petani Sambas (Januari 2026)
Ketidakhadiran Bulog di lapangan memaksa petani menjual hasil panen ke tengkulak dengan harga yang merugikan.
| Parameter Harga | Nilai (Per Kilogram) |
|---|---|
| HPP (Inpres No. 6 Tahun 2025) | Rp6.500 |
| Harga Lapangan (Sambas) | Rp5.700 |
| Defisit / Kerugian Petani | – Rp800 (12,3%) |
| Status Penyerapan Bulog | Menunggu Penugasan Bapanas. |
Satgas Pangan Harus Turun Tangan
Daniel Johan menyoroti belum adanya penyerapan aktif oleh Bulog di Sambas dan beberapa daerah lainnya. Jika kendala administratif atau anggaran di Badan Pangan Nasional (Bapanas) masih menjadi hambatan, ia mendesak Satgas Pangan untuk segera turun ke lapangan guna menertibkan pembeli gabah agar menyesuaikan harga dengan ketetapan pemerintah.
Lindungi Kesejahteraan Petani
Merujuk pada Inpres Nomor 6 Tahun 2025, Daniel mengingatkan bahwa pemerintah sudah memiliki dasar hukum yang kuat untuk menjaga harga gabah. Keterlambatan penugasan Bulog hanya akan membuat harga jatuh lebih dalam seiring bertambahnya daerah yang memasuki masa panen raya. “Pemerintah harus segera bergerak, jangan sampai terlambat dan berlarut-larut,” pungkas politisi Fraksi PKB tersebut.
dpr.go.id




