AMBARA

Hobi Baru Oknum Adhyaksa: Koleksi Rompi Oranye di Tengah Jargon Integritas ST Burhanuddin

Jaksa Agung ST BURHANUDDIN (istimewa)

AMBARA — Selamat datang kembali di panggung sandiwara penegakan hukum kita. Belum kering tinta spanduk “Integritas” di kantor-kantor Kejaksaan, KPK sudah kembali memanen hasil OTT. Kali ini, “buah” yang dipetik berasal dari kebun Banten dan Hulu Sungai Utara. Jaksa lagi, Jaksa lagi. Penegak hukum kita memang konsisten: konsisten bikin publik geleng-geleng kepala.

📊 Raport “Prestasi” Oknum Jaksa (Edisi ICW)

MENU SPESIAL: JAKSA DALAM PUSARAN KORUPSI
KategoriAngka & Fakta
Koleksi Jaksa Tersangka (Sejak 2006)45 Orang (Hampir satu kompi!)
Era ST Burhanuddin7 Orang (Dan masih bisa bertambah)
Kualitas PengawasanMandul (Istilah halus dari ICW)
Skema Persidangan“Jaksa Mengadili Teman Jaksa”
Catatan: Integritas itu dipraktekkan, bukan cuma dijadikan bahan pidato di Senayan.

Wana Alamsyah dari ICW dengan gemas menyebut pengawasan internal di bawah Jaksa Agung ST Burhanuddin itu mandul. Mungkin kata “mandul” terlalu sopan; mari kita sebut “sedang tidur siang”. Bayangkan, integritas hanya jadi jargon yang laku di atas kertas spanduk, tapi kalah telak saat berhadapan dengan segepok uang hasil OTT di daerah.

​Puncak kelucuan dari drama ini adalah ketika jaksa yang diciduk KPK dikembalikan ke Kejaksaan Agung. Ini logika tingkat dewa: orang dalam mengadili orang dalam. Publik cuma bisa menonton sambil makan popcorn, menebak-nebak apakah hukumannya bakal seberat omongan di depan kamera atau seringan kapas.

​Alibi “oknum” dari Anang Supriatna sudah basi. Kalau oknumnya sudah sebanyak ini, mungkin yang salah bukan cuma orangnya, tapi sistemnya yang perlu “diformat ulang”. Di era ST Burhanuddin, reformasi Kejaksaan tampak seperti panggung citra: ramai lampu di depan, tapi banyak atap bocor di belakang yang sengaja ditutupi karpet merah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *