(Cerpen Reality Ala Warung Kopi: Ketika Data BPS Jadi Bahan Lawak Paling Salty)
Aziz itu, entah kenapa, hidupnya selalu lebih drama dari sinetron jam 7 malam. Setelah idenya mengajak turis menikah ditolak mentah-mentah (katanya melanggar HAM dan UU Imigrasi), dia kini punya kegabutan baru: menganalisis data BPS tentang perhotelan.
”Gus, ini data BPS kok lebih horor dari film di bioskop,” kata Aziz sambil menyeruput kopi sasetnya di pos ojek. “Coba lihat ini! Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Bintang di NTB cuma 43,51 persen! Turun 2,15 poin!”
Aziz bener, ni datanya: Mandalika Megah, Tapi Turis Tak Mau Menginap Lama. Ada Apa dengan Pariwisata NTB?
Dia menatap langit. “Artinya apa, Gus? Artinya, lebih dari separuh kamar hotel itu isinya cuma bantal, guling, sama AC yang nyala sendiri!“
(Suara Narator): Aziz ini memang agak lebay. Tapi kegabutannya ada benarnya. Data BPS memang menunjukkan fakta telanjang: kamar hotel berbintang kita sepi. Ibaratnya, itu kamar kos mewah yang cuma diisi cicak.
Teori Konspirasi Aziz: Turis Numpang Nge-charge
Aziz menghela napas panjang. Dia sudah berpikir keras, dari cara pikir guide sampai cara pikir detektif swasta.
”Saya punya teori, Gus,” katanya serius. “Turis itu sekarang datang ke Lombok cuma buat… numpang nge-charge ponsel.“
”Hah?”
”Iya! Mereka datang dari Denpasar, jalan-jalan seharian, baterai ponselnya lowbat. Terus mereka lihat hotel bintang, mikir, ‘Wah, WiFi kencang, banyak colokan, AC dingin, bisa rebahan sebentar.’ Jadi, mereka check-in, charge ponsel, upload Instagram, terus besoknya check-out lagi. Nggak nginap beneran!”
(Suara Narator): Ini adalah sentilan humor paling satir dari Aziz. Di tengah upaya pemerintah menggenjot pariwisata super prioritas, kenyataan di lapangan justru memperlihatkan bahwa daya tarik utama hotel kita mungkin cuma stop kontak yang banyak dan WiFi yang cepat. Ironis, di zaman digital, infrastruktur dasar charger dan internet justru bisa jadi daya tarik utama, mengalahkan keindahan alam.
Ketika RLM Jadi RLM (Really Low Motivation)
Aziz menyambung argumennya.
”Gus, ini bukan cuma soal TPK yang nyungsep. Ini juga soal RLM! Rata-Rata Lama Menginap di hotel berbintang itu cuma 1,87 hari! Yang non-bintang malah cuma 1,66 hari!”

”Itu artinya apa lagi, Ziz?”
”Artinya, turis itu cuma punya Really Low Motivation buat tinggal lama di sini! Ibaratnya, mereka datang cuma buat numpang kentut, terus pergi. Bau kentutnya hilang, mereka pun lenyap!”
(Suara Narator): Nah, ini dia intinya. Really Low Motivation alias RLM versi Aziz ini adalah kritik terhadap produk pariwisata kita. Apa yang salah? Apakah promosi kita kurang menarik? Atau jangan-jangan, yang kita jual cuma destinasi, bukan pengalaman yang bikin turis betah berlama-lama, sampai lupa jadwal penerbangan pulang?
Solusi (Gila) Aziz: Hotel Tanpa Dinding, Langsung ke Hati
Aziz membuang puntung rokoknya. Dia punya ide baru yang lebih gila dari ide pernikahan.
”Bang, saya punya ide gila tapi cerdas. Kita buat hotel tanpa dinding!”
”Maksudmu, jadi tenda gitu?”
”Bukan! Kita buat experience yang bikin turis betah di hati. Kita ajak mereka ngopi di sawah, mancing bareng, ngerumpi di warung kopi. Kalau mereka sudah merasa jadi bagian dari keluarga Lombok, mereka pasti nggak mau pulang!”
(Suara Narator): Ide Aziz memang absurd, tapi mengandung kebenaran. TPK yang rendah dan RLM yang menyedihkan itu bukan cuma soal harga kamar, tapi soal nilai yang ditawarkan.
- Kritik Bernas: Selama kita gagal menjual pengalaman otentik yang lebih dari sekadar “colokan listrik” atau “spot foto Instagram”, selama itu pula kamar-kamar hotel kita akan terus sepi, dan Aziz akan terus galau dengan data BPS.
- Solusi Khas Getnews: Mungkin benar kata Aziz. Kita butuh hotel tanpa dinding, yang langsung menyentuh hati turis. Biar mereka nggak cuma numpang nge-charge ponsel, tapi nge-charge jiwa mereka dengan pengalaman Lombok yang tak terlupakan.
Urusan TPK selesai. Urusan nge-charge jiwa turis, mari kita lihat.
Emha Firmansyah
BPS !NSIGHT: Edisi Januari 2026
"Sourced from BRS BPS NTB - Strategic Analysis by GET DATA !NSIGHT"




