OASE

Ibnu Battutah: Sang Qadi yang Menaklukkan Dunia Tanpa Meriam

Ibnu Batutah (kanan) di Mesir, ilustrasi karya Léon Benett dalam sebuah buku yang terbit pada 1878 (wikipedia)

(Executive Summary: Ibnu Battutah’s 30-year odyssey, covering 120,000 km, stands as the greatest feat of human exploration. Unlike Western explorers who relied on naval armadas and military force, Battutah traversed the globe armed only with Islamic jurisprudence and a pen, proving that civilization is best understood through intellect, not conquest.)

OASE — Sejarah seringkali punya selera humor yang getir. Kita dipaksa menghafal nama Marco Polo, Columbus, hingga Magellan sebagai “penakluk dunia”. Padahal, seratus tahun sebelum Magellan tewas di Filipina karena sengketa lokal, seorang pria dari Tangier sudah lebih dulu “melipat” peta dunia sendirian.

Data vs Mitos: Perbandingan yang Menyakitkan

​Jika kita meletakkan angka di atas meja, narasi kejayaan eksplorer Barat tiba-tiba terasa sangat “kecil”. Ibnu Battutah keluar dari rumahnya pada 1325 hanya berniat untuk Haji. Namun, kakinya tidak bisa berhenti. Selama 30 tahun, ia menempuh 120.000 kilometer. Jarak yang cukup untuk mengelilingi bumi tiga kali.

​Bandingkan dengan para “pahlawan” buku sejarah kita:

  • Marco Polo: Butuh 24 tahun hanya untuk 15.000 km di bawah perlindungan aman Kekaisaran Mongol.
  • Columbus & Vasco da Gama: Datang dengan armada kapal dan ratusan awak. Da Gama berangkat dengan 170 orang, pulang hanya tinggal 54. Sisanya? Tewas di jalan.
  • Magellan: Memulai sirkumnavigasi dengan 285 awak, hanya 18 yang selamat. Magellan sendiri “pensiun dini” selamanya di Filipina.

Ibnu Battutah? Satu orang. Tanpa armada. Tanpa dukungan kerajaan di belakangnya. Ia menyeberangi Sahara yang membakar dan Hindu Kush yang beku dengan selamat, sehat, dan membawa catatan paling detail tentang peradaban manusia.

Baca juga: Dino Patti Djalal “Colek” Menlu Sugiono: Jangan Lupa Urus Rumah Sendiri

Pena vs Pedang: Diplomasi Intelektual

​Perbedaan paling kontras adalah cara mereka “menaklukkan”. Eksplorer Barat datang ke Asia dan Afrika dengan pedang, meriam, dan ambisi kolonial. Ibnu Battutah datang dengan pena dan ilmu hukum Islam (Syariah).

​Dunia menyambutnya bukan karena takut, tapi karena hormat:

  • ​Di Delhi, ia diangkat menjadi Qadi (hakim) dengan gaji fantastis 12.000 dirham.
  • ​Di Maladewa, ia menjadi hakim agung.
  • ​Di Samudera Pasai (Aceh), ia disambut hangat sebagai ulama terpandang.

​Ia menaklukkan dunia dengan kecerdasan, bukan kekerasan. Ia membuktikan bahwa gelar “Warga Dunia” pertama seharusnya jatuh ke tangannya.

Kenapa Marco Polo Lebih Terkenal?

​Jawabannya klise: Karena sejarah ditulis oleh pemenang. Eropa membesarkan nama Marco Polo untuk melegitimasi ambisi penjelajahan mereka. Namun, bagi kita di Timur, Ibnu Battutah adalah pengingat bahwa kehebatan bukan tentang siapa yang pertama tiba dengan kapal perang, tapi siapa yang paling jauh menelusuri peradaban dan kembali untuk menceritakan kemanusiaan tanpa tumpah darah.

KOMPARASI EKSPLORASI: BATTUTAH VS THE WEST

THE ULTIMATE VOYAGER: BATTUTAH INDEX
PenjelajahJarak (Est.)Senjata Utama
Ibnu Battutah120.000 KmIlmu Hukum & Pena
Marco Polo24.000 KmPerlindungan Kaisar
Eksplorer BaratVariatifKapal Perang & Meriam

Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *