GET PLANET — Di balik gemerlap statusnya sebagai destinasi wisata kelas dunia, Gili Trawangan menyimpan sisi gelap yang memilukan. Sebuah unggahan dari @natgeoindonesia baru-baru ini menyoroti potret tragis ekosistem di pulau seluas 430 hektare tersebut: ratusan rusa liar kini terpaksa hidup berdampingan dengan tumpukan limbah.
Habitat Menyusut, Ruang Hijau Hilang
Pembangunan hotel, restoran, dan fasilitas wisata yang masif di perbukitan sebelah barat pulau telah merenggut habitat alami rusa-rusa liar. Ruang hijau yang kian menyusut membuat sumber pakan dan air alami menghilang. Akibatnya, satwa-satwa ini terdorong turun mendekati kawasan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
Tragedi di Tumpukan Sampah
Gili Trawangan tercatat menghasilkan lebih dari 20 ton sampah setiap harinya. Ironisnya, karena ketiadaan pilihan, rusa-rusa liar tersebut terlihat mengonsumsi sisa makanan yang sudah tercampur dengan limbah plastik dan zat berbahaya lainnya di area pembuangan.
Alarm bagi Pariwisata NTB
Fenomena ini menjadi alarm keras bagi pengelola pariwisata dan pemerintah daerah. Daya dukung pulau yang terbatas tidak akan mampu menahan beban pembangunan jika aspek ekologi terus diabaikan. Keberlanjutan lingkungan dipertanyakan ketika satwa ikonik pulau harus meregang nyawa di tengah tumpukan sisa konsumsi wisatawan.
Pariwisata masa depan bukan lagi soal jumlah kunjungan, melainkan bagaimana pembangunan berbasis ekologi dapat menjamin keseimbangan antara kenyamanan manusia dan keselamatan alam. Tanpa pengelolaan sampah yang serius, Gili Trawangan terancam kehilangan pesona alaminya secara permanen.
source: ig @natgeoindonesia




