Mengapa Kita Butuh Deteksi High-Tech untuk Membuktikan Apa yang Sudah Diketahui Warga Lokal: Hutan Kita Diserobot?
Di tengah duka akibat banjir dan longsor Sumatra, muncul pemandangan yang menyedihkan: kayu-kayu gelondongan besar yang terbawa arus. Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa kementeriannya sedang bekerja keras mencari tahu asal usulnya.
Berikut adalah detail pernyataan Menteri Kehutanan yang menjadi trigger utama polemik ini:
“Pengambilan sampel dilakukan untuk mengetahui darimana kayu-kayu tersebut berasal. Kata Raja Juli, pihaknya memiliki teknologi canggih yang bisa memberitahu apakah kayu tersebut dipotong menggunakan alat tertentu atau bukan,”.
Ironi ini menusuk: Di saat warga di lapangan sudah tahu penyebab banjir adalah deforestasi, pemerintah malah sibuk memamerkan kecanggihan laboratorium untuk membuktikan sesuatu yang seharusnya sudah terlihat dengan mata telanjang.
Detective Work: Mencari Alibi di Lab
Pernyataan “memiliki teknologi canggih yang bisa memberitahu apakah kayu tersebut dipotong menggunakan alat tertentu atau bukan” menimbulkan kritik tajam:
- Kritik Prioritas: Apakah energi pemerintah saat ini seharusnya dicurahkan untuk deteksi forensik di laboratorium atau penegakan hukum di lokasi? Tragedi banjir menuntut kecepatan, bukan slow-motion investigation.
- Alibi Politik: Teknologi ini berisiko menjadi alibi politik—sebuah alat untuk menunda pengumuman hasil dan mencari pembenaran bahwa kayu tersebut “alami” atau berasal dari “kebun rakyat,” demi melindungi kepentingan bisnis besar yang terlibat dalam pembalakan liar.
Kebenaran Sederhana: Hutan Tak Mampu Bertobat
Kasus ini adalah bukti fisik bahwa seruan “Tobat Nasuha” (seperti yang diserukan Cak Imin) kepada kementerian terkait harus segera diikuti tindakan nyata. Kayu gelondongan itu adalah saksi bisu bahwa ada kegagalan masif dalam pengawasan hutan.
- Fakta Lapangan: Warga lokal di sekitar lokasi bencana sudah lama mengetahui adanya praktik pembalakan liar. Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai spons penampung air telah berubah menjadi ladang yang siap longsor.
- Biaya Pengawasan: Kita menghabiskan anggaran besar untuk pengawasan dan penanggulangan, namun (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20251204085025-20-1302720/menteri-kehutanan-soal-kayu-banjir-sumatera-punya-teknologi-canggih) kayu gelondongan itu tetap terhanyut ke pemukiman warga</a>. Artinya, pengawasan di lapanganlah yang gagal, bukan alat lab.
Hasil Sampel Harus Diungkap ke Publik dan Cepat
Pemerintah tidak boleh menggunakan “teknologi canggih” sebagai perisai birokrasi.
Hasil sampel kayu itu harus segera diungkap secara transparan kepada publik. Jika terbukti ada tebangan ilegal, maka sanksi harus ditegakkan secara maksimal, tanpa pandang bulu.
Indonesia tidak kekurangan teknologi. Yang kurang adalah keberanian politik untuk menindak tegas mafia lingkungan. Kayu gelondongan itu tidak butuh teknologi canggih untuk berbicara. Ia hanya butuh kejujuran pejabat untuk mendengarkan kebenarannya.
Tim Redaksi





One thought on “Ironi Kayu Gelondongan: Menteri Kehutanan Perlu Teknologi Canggih untuk Tahu Kayu Hasil Tebangan, Rakyat Cukup Pakai Mata Telanjang”