MEUREUDU, getnews – Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Kantor Program Makan Bergizi (MBG) bergerak cepat mengoperasikan dapur darurat untuk memastikan kebutuhan pangan warga terdampak banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, tetap terpenuhi. Seluruh porsi MBG yang awalnya dialokasikan untuk sekolah kini dialihkan ke desa-desa dan posko pengungsian.
Langkah ini merupakan mandat negara, sejalan dengan Asta Cita, untuk penyediaan layanan publik inklusif di masa krisis.
Standar Gizi Dijaga Ketat untuk Kelompok Rentan
Muhammad Ahlul Udzri, Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Pidie Jaya, menegaskan fokus utama mereka adalah hak gizi masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan (balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, atau Kelompok 3B).
“Fokus kami adalah memastikan hak gizi masyarakat tetap terpenuhi, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Pada masa darurat, pangan tidak boleh menjadi hambatan bagi pemulihan warga,” ujar Ahlul, Selasa (9/12/2025).
Saat ini, dari total 12 Sentra Penyediaan Pangan Gizi (SPPG), hanya empat yang dapat beroperasi karena tantangan logistik. Meskipun demikian, kapasitas distribusi harian berkisar antara 2.000 hingga 3.500 porsi makanan.
Tantangan Rantai Pasok dan Distribusi Jalan Kaki
Ahlul menyebut tantangan terbesar di hari-hari awal adalah terganggunya rantai pasok bahan baku akibat pasar lokal yang juga terdampak banjir. Tim relawan BGN harus berpindah dari satu pasar ke pasar lain untuk memastikan pasokan.
Selain itu, akses ke beberapa titik terisolasi memaksa tim distribusi bekerja sama dengan BPBD dan TNI/Polri, bahkan harus berjalan kaki sambil membawa boks makanan karena jembatan rusak.
“Ada wilayah yang tidak bisa dilewati kendaraan karena jembatannya rusak. Yang penting, tidak ada anak dan lansia yang terlewat,” kata Ahlul.
Seluruh SPPG tetap menerapkan SOP higienitas dan keamanan pangan BGN secara ketat, memastikan bahwa kualitas makanan tidak menurun meskipun dalam situasi tanggap darurat.
infopublik.id




