AMBARA

Jeffrey Sachs dan Ramalan Perang Dunia: Ketika Paman Sam Kehilangan Logika

​EKONOM TERSOHOR Jeffrey Sachs baru saja mengeluarkan peringatan yang bikin bulu kuduk berdiri, atau setidaknya bikin kita mikir dua kali buat investasi beli tanah. Menurut Sachs, perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran itu sama sekali “nggak punya logika”—kecuali kalau logikanya adalah mau ngajak kita semua simulasi kiamat lewat Perang Dunia III. Di saat PBB sibuk bikin resolusi buat marahin Iran (yang narasi satirnya sudah kita bahas sebelumnya), Sachs justru menunjuk hidung Washington sebagai biang kerok yang lagi main korek api di gudang bensin.

​Bagi Sachs, kebijakan luar negeri AS belakangan ini lebih mirip kayak orang mabuk yang megang kendali pesawat tempur. Mereka menyerang Iran, tapi berharap stabilitas global tetap terjaga. Itu kan ibarat kamu bakar rumah tetangga, tapi protes kenapa asapnya bikin sesak napas di rumah sendiri. Sachs melihat bahwa obsesi AS untuk menjaga dominasi di Timur Tengah lewat jalur kekerasan adalah sebuah kegagalan nalar yang sistematis. Logikanya sederhana: kalau kamu terus-terusan memojokkan negara yang punya nyali (dan nuklir), pilihannya cuma dua: mereka menyerah, atau kita semua meledak bareng.

GETNEWS STRATEGIC AUDIT: The World War III Probability
Variabel AnalisisArgumen Jeffrey SachsLensa Strategis (Mojok Style)
Nalar Perang“Lack of any logic.” Perang tanpa tujuan yang jelas.The Dumbest Strike. Lebih banyak bakar uang daripada hasilkan perdamaian.
Risiko GlobalBisa memicu Perang Dunia III.Endgame Scenario. Eskalasi yang bikin Marvel Cinematic Universe jadi kelihatan kayak film anak TK.
Peran AS-IsraelPelaku utama provokasi di kawasan.Dynamic Duo of Chaos. Pasangan paling serasi dalam urusan bikin dunia pusing tujuh keliling.
Analysis: GetNews Intelligence Unit | Source: Democracy Now! [Mar 2026]

​Yang bikin makin ngeri, Sachs mengingatkan bahwa eskalasi ini adalah karpet merah menuju perang global. Ketika AS dan Israel asyik “menertibkan” Iran, mereka lupa kalau dunia ini bukan cuma milik mereka berdua. Ada pemain lain yang diam-diam sudah mulai gatal mau ikutan campur tangan. Sachs seolah ingin bilang: “Heh, bangun! Ini bukan game Call of Duty yang bisa di-restart kalau kalah.” Tapi ya begitulah, di telinga para penguasa di Washington, suara Sachs mungkin cuma dianggap angin lalu, kalah berisik sama suara dentuman mesin perang yang cuannya mengalir ke kantong kontraktor pertahanan.

​Sachs juga menyentil standar ganda yang sudah mendarah daging. Bagaimana mungkin sebuah negara yang hobi melanggar kedaulatan orang lain bisa dengan percaya diri bicara soal “hukum internasional”? Ini adalah puncak komedi intelektual yang pahit. Di tangan Sachs, retorika perdamaian AS itu terlihat seperti badut yang mencoba menjinakkan bom pakai palu godam. Kalau ramalan Sachs ini benar, mungkin kita nggak perlu repot-repot mikirin cicilan rumah tahun depan, karena siapa tahu, tahun depan rumahnya sudah jadi lokasi syuting film Fallout versi dunia nyata.

“Jeffrey Sachs mengingatkan kita bahwa Perang Dunia III itu bukan dimulai dari alien, tapi dari ego sekelompok orang yang merasa paling punya logika, padahal logikanya sudah lama hanyut di Selat Hormuz.”— AMBARA SATIRE INDEX

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *