JAKARTA, GetNews.co.id – Kabar perombakan kursi Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) kian menguat seiring dengan proyeksi reposisi Thomas Djiwandono menuju kursi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Di tengah spekulasi tersebut, nama Dr. Juda Agung muncul sebagai kandidat tunggal terkuat. Bukan sekadar pengisian jabatan, masuknya Juda ke Lapangan Banteng menandai era baru “Super-Sinergi” antara kebijakan moneter dan fiskal Indonesia di bawah panji Prabowonomics.
Rekam Jejak: Sang Ahli Strategi dari Kebon Sirih
Juda Agung bukanlah nama asing di pusat gravitasi ekonomi nasional. Sebagai otak di balik kebijakan makroprudensial BI, ia memiliki kualifikasi yang melampaui sekadar birokrat:
- Intelektualisme Ekonomi: Ph.D dari University of Birmingham memberikan landasan teoretis yang kokoh pada setiap kebijakan stabilitas.
- Diplomasi Global: Mantan Direktur Eksekutif IMF yang fasih membaca gerak gerik investor New York hingga Davos.
- Crisis Survivor: Pilar utama navigasi moneter Indonesia saat diterjang badai pandemi COVID-19.
GET DATA Audit: Rasionalitas Penunjukan Juda Agung
Tim GET !NSIGHT membedah tiga variabel utama yang menjadikan Juda Agung sebagai pilihan “tak terelakkan” bagi pemerintahan Prabowo-Purbaya:
Analisis Dampak: Fiskal yang Lebih Terukur
Kehadiran Juda Agung diprediksi akan mengubah wajah kebijakan fiskal Indonesia menjadi lebih “Prudent & Tactical”. Ia bukan tipe pejabat yang akan membiarkan defisit melebar tanpa kalkulasi risiko nilai tukar. Sebaliknya, latar belakang moneter Juda akan mempermudah koordinasi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) agar tetap kompetitif di mata investor asing tanpa harus mengorbankan stabilitas dalam negeri.
Jawaban bagi Ketidakpastian
Penunjukan Juda Agung adalah “pencerahan” di tengah kabut geopolitik. Di saat dunia meragukan ambisi pertumbuhan Indonesia, Prabowo justru menempatkan “penjaga gawang” yang paling paham cara menjaga gawang moneter. Ini bukan sekadar rotasi, ini adalah pernyataan kedaulatan ekonomi.
“Ekonomi yang kuat tidak hanya membutuhkan pedal gas yang dalam, tetapi juga sistem pengereman moneter yang paling presisi.”




