AMBARA

Ketika Tuan Guru Lebih Takut Kebenaran daripada ‘Sumpah Nyatoq’

Ada yang bilang, di negeri ini, posisi “Tuan Guru” itu setingkat di bawah langit dan beberapa jengkal di atas nalar manusia biasa. Tapi, apa jadinya kalau gelar mulia itu mendadak jadi bungkus dari sebuah ketakutan yang luar biasa? Di Lombok Tengah, aroma mistis sumpah nyatoq kini sedang bersaing dengan aroma penyelidikan polisi.

​Kabar yang berembus—dan kini sedang “di-audit” oleh AKP Punguan Hutahaean dan pasukannya—menyebutkan adanya dugaan intimidasi terhadap santriwati. Senjatanya bukan lagi kitab suci, melainkan Sumpah Nyatoq.

​Bagi Anda yang belum paham, sumpah ini bukan sekadar “Demi Allah” yang sering diucapkan politisi saat kampanye. Nyatoq adalah “nuklir spiritual” lokal. Barang siapa yang berbohong (atau dalam kasus ini, berani melapor?), maka kutukan tujuh turunan, perut kembung, hingga nasib malang akan mengejar.

Audit Mistis vs Audit Polisi

​Sangat satir memang, melihat sebuah institusi pendidikan yang seharusnya mencetak kecerdasan, justru menggunakan “ancaman metafisika” untuk membungkam suara santriwati yang mungkin saja sedang mencari keadilan. Jika seorang pimpinan ponpes mulai meminta santrinya bersumpah nyatoq agar tidak “bernyanyi”, itu tandanya ada nada-nada sumbang yang sangat keras sedang coba disembunyikan di balik asrama.

​Kita harus bertanya secara audit moral: Sejak kapan fungsi agama berubah dari rahmatan lil alamin menjadi intimidasi lil santriwati?

​Kepolisian Lombok Tengah kini sedang melakukan lidik. Kita hanya bisa berharap, hukum formal tidak kalah sakti dengan sumpah mistis. Sebab, di hadapan hukum, yang dicari adalah alat bukti, bukan alat kutuk.

Metode PembungkamanInstrumen OperasionalStatus Audit Getnews
SUMPAH NYATOQMenggunakan ancaman mistis/kutukan lokal.INTIMIDASI SPIRITUAL.
GELAR TUAN GURUOtoritas tanpa batas di lingkup Ponpes.FEODALISME AGAMA.
KUHP / HUKUM POLISILidik, pemanggilan saksi, dan alat bukti.HARAPAN TERAKHIR.
Dogma Digital

“Di hadapan kebenaran, sumpah nyatoq hanyalah mantra bagi mereka yang kehilangan hujah. Getnews meyakini bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan kutukan untuk membela sebuah kesalahan. Jika sorban dan gelar digunakan untuk memenjara suara santriwati, maka sesungguhnya ia sedang meruntuhkan pondasi imannya sendiri. Karena pada akhirnya, yang benar akan tegak, dan yang batil akan nyatoq sendiri oleh kebohongannya.”

— Biro Kontemplasi Getnews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *