DIPLOMAT

Krisis Venezuela 2026: RI Kecam Penggunaan Kekuatan Militer, Fokus Lindungi 37 WNI

Gedung pancasila kemlu (kemlu/getnews)

JAKARTA, getnews.co.id — Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan bahwa sikap Indonesia terhadap krisis di Venezuela didasarkan pada kepatuhan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB. Pernyataan ini muncul menyusul operasi militer Amerika Serikat pada 3 Januari 2026 yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, serta menewaskan sedikitnya 100 orang di Caracas.

​Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, menyatakan bahwa Indonesia menyatakan keprihatinan mendalam terhadap setiap tindakan yang melibatkan ancaman atau penggunaan kekuatan militer dalam penyelesaian sengketa antarnegara. “Posisi Indonesia jelas dan berbasis prinsip. Fokus kita adalah norma internasional, stabilitas, serta keselamatan warga negara kita di sana,” tegasnya, Kamis (8/1/2026).

Status Kontinjensi: Perlindungan WNI di Venezuela

​Meski situasi dinilai berangsur stabil, KBRI Caracas telah menyiapkan skema evakuasi darurat jika eskalasi meningkat.

Emergency Alert: Indonesian Nationals in Caracas
Parameter KeamananStatus / Detail
Jumlah WNI Terdampak37 Orang (Dalam Pemantauan Intensif).
Status EvakuasiBelum Dilakukan (Situasi Dinilai Normal).
Rencana KontinjensiSiap diaktifkan jika status naik ke Siaga Satu.
Dampak Korban (Lokal)100 Tewas (Keterangan Kemendagri Venezuela).
Sumber: Direktorat Pelindungan WNI Kemlu RI | Update: 08 Jan 2026

Diplomasi Sunyi: Alasan RI Tidak Sebut Nama AS

​Menanggapi kritik atas pernyataan resmi yang tidak menyebut nama Amerika Serikat dalam peristiwa penangkapan Maduro, Kemlu RI menekankan pentingnya menjaga ruang dialog. Strategi ini diambil agar Indonesia tetap bisa berperan dalam upaya deeskalasi global tanpa terjebak dalam retorika politik yang dapat membahayakan posisi WNI dan stabilitas hubungan diplomatik multi-lateral.

Rencana Kontinjensi KBRI Caracas

​Plt. Direktur Pelindungan WNI, Heni Hamidah, memastikan KBRI Caracas terus menjalin komunikasi dua arah dengan 37 WNI yang berada di Venezuela. Meskipun situasi pasca-penangkapan Maduro di New York dilaporkan mulai kondusif, Indonesia tidak meremehkan potensi gejolak susulan. Rencana kontinjensi yang telah disusun mencakup jalur evakuasi darurat dan titik kumpul aman bagi warga negara jika stabilitas keamanan kembali terganggu.

       

​Operasi militer AS yang mengakibatkan penculikan pemimpin negara berdaulat ini tetap menjadi perhatian serius bagi arsitektur keamanan internasional di awal tahun 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *