Menjadi bos BUMN itu impian semua menantu idaman di Indonesia. Bayangkan, seragamnya rapi, kantornya di gedung mentereng yang kacanya lebih mengkilap dibanding masa depan kita, dan punya kekuasaan buat mengatur hajat hidup orang banyak—dari urusan beras sampai urusan sinyal yang sering kembang kempis. Tapi ya itu, hukum alam selalu berlaku: apa yang naik dengan lift, bisa turun dengan mobil tahanan.
Presiden Prabowo baru saja meniup peluit panjang. Bukan peluit tanda berakhirnya pertandingan sepak bola, tapi peluit “absen” buat para mantan bos BUMN supaya siap-siap mampir ke Kejaksaan Agung (Kejagung). Ini semacam reuni, tapi konsumsinya bukan nasi kotak dan teh botol, melainkan daftar pertanyaan yang bikin keringat sebesar biji jagung jagung keluar dari dahi yang biasanya adem karena AC 16 derajat.
Jalan Ninja Menuju Ruang Periksa
Dulu, tanda tangan mereka adalah “sabda” yang bisa mencairkan triliunan rupiah. Sekarang, tanda tangan itu sedang diteliti pakai lup oleh jaksa, dicari celahnya di mana, dan kira-kira berapa kerugian negara yang bisa dipakai buat membangun berapa banyak puskesmas di pelosok.
Masalahnya, kita sudah terlalu sering menonton drama begini. Bos BUMN masuk penjara itu sudah kayak menu mingguan di berita. Awalnya gagah pakai jas, lalu muncul pakai rompi merah jambu atau jingga yang seleranya agak questionable secara fashion. Pertanyaannya: ini beneran bersih-bersih atau cuma sekadar ritual ganti penghuni kursi?
Dalam kacamata AMBARA, ini adalah fiksi yang paling jujur. Kita diajak melihat bagaimana kekuasaan itu seperti gorengan di pinggir jalan: luarnya garing dan menggoda, tapi kalau dimakan kebanyakan, bikin radang tenggorokan—dan dalam kasus ini, radangnya sampai ke ranah hukum.
Obral Rompi Baru
Akhirnya, kita cuma bisa berharap semoga Kejagung punya stok rompi yang cukup banyak. Karena kalau daftar “mantan” ini panjangnya kayak antrean sembako murah, bisa-bisa Kejagung kekurangan personel buat bikin berita acara.
Bagi para bos yang sekarang masih menjabat: tenang, kursi Anda masih empuk. Tapi jangan lupa pesan Gojek buat beli camilan, karena siapa tahu besok lusa yang datang ke kantor bukan kurir makanan, tapi kurir surat panggilan berwarna cokelat.
Selamat menunggu giliran, Pak Bos!




