AMBARA — Selamat hari Minggu buat para pejuang eselon dua di lingkup Pemprov NTB yang mungkin tidurnya kurang nyenyak semalam. Pendaftaran kursi Sekretaris Daerah (Sekda) resmi ditutup, dan kabarnya sudah ada empat pendekar birokrasi yang naruh berkas di meja Pansel.
Mari kita bedah baik-buruknya fenomena “War Kursi Sekda” ini dengan kacamata rakyat jelata.
Ambil Baiknya:
Gubernur kita, Lalu Muhamad Iqbal, kayaknya nggak mau punya Sekda yang cuma jago duduk manis di balik meja jati sambil nungguin berkas disposisi. Kriteria beliau jelas: harus lihai birokrasi dan punya networking atau jejaring yang luas.
Istilahnya, Sekda NTB 2025 nanti harus jadi “Social Butterfly”. Kenapa baik? Karena Gubernur Iqbal pengen lebih banyak turun ke lapangan dengar curhat warga. Jadi, urusan “nyari duit” ke pusat atau lobi-lobi antar lembaga biar program nggak macet, ya dikasi ke Sekda. Kalau Sekdanya jago lobi, APBD kita mungkin nggak cuma habis buat bayar utang program lama, tapi beneran bisa buat bangun sirkuit (lagi) eh, maksudnya bangun kesejahteraan warga.
Ambil Buruknya:
Nah, buruknya—atau minimal ngerinya—adalah jadwal seleksi yang mendadak “ngegas”. Bayangkan, tes CAT di BKN yang kudunya Januari, dimajuin jadi tanggal 22-24 Desember. Padahal itu kan musim-musimnya orang mikirin mau liburan Natal atau tahun baru, eh para calon Sekda malah disuruh ujian.
Belum lagi soal dominasi pendaftar internal. Memang sih Gubernur bilang “semua boleh daftar asal syarat cukup”, tapi ya kita tahu sendiri, aroma “orang dalam” atau loyalis birokrasi lama biasanya lebih kental dari bau kopi pagi di kantin kantor Gubernur. Jangan sampai seleksi ini cuma jadi ajang formalitas buat milih siapa yang paling “manut”, bukan siapa yang paling “mumpuni”.
Jadi Sekda itu berat, Bos. Harus bisa jadi “tameng” Gubernur, jadi “mesin” birokrasi, sekaligus jadi “humas” buat pemerintah pusat. Buat empat pejabat yang sudah daftar: Selamat berjuang! Ingat, jabatan itu amanah, tapi kalau sudah jadi Sekda, ya jangan lupa amanahnya jangan cuma buat mutasi keluarga dekat ke dinas yang basah.
UPDATE MENIT AKHIR: Ternyata kursi Sekda NTB punya daya pikat luar biasa. Jika Sabtu sore baru ada 4 nama yang berani muncul, tepat saat lonceng tengah malam berbunyi (20/12), jumlahnya membengkak jadi 10 orang! Enam “penumpang gelap” di menit akhir ini sukses bikin peta persaingan makin riuh. Dari auditor BPKP Jatim sampai pejabat Kemenko PMK ikut turun gunung demi takhta birokrasi di Bumi Gora.




