Salah satu Perempatan di Mataram (getnews)

Kemacetan di Rembiga, Mataram dan Cakranegara adalah Ukuran Nyata Gagalnya Timing Lampu Merah, Bukan Gagalnya Jalan Raya.

​”Pak Budi, gue stuck! Stuck parah!”

Gerutu ​Aziz, si guide pariwisata yang selalu galau kalau lihat data BPS ini tumben masih pagi begini sudah galau. Biasanya kalau tidak lihatin data BPS dia sibuk menganalisis Active User media online idolanya getnews. Aziz cerita kalau hari itu ia sempat terjebak Macet di persimpangan Tanak Aji. Ia sudah menunggu lampu hijau selama tiga kali putaran.

​”Padahal ini Mataram, Pak Budi! Bukan Gatot Subroto! Kenapa kota sekecil ini punya traffic jam yang rasanya sama persis kayak Jakarta jam 5 sore?!” teriak Aziz, frustrasi.

​Kemacetan di Mataram bukan terjadi karena volume mobilnya sebesar Jakarta. Ia terjadi karena logika jalan rayanya tidak pernah sinkron dengan realitas kedisiplinan pengemudi lokal.

​Analisis Data Observasi: Kemacetan High-Ratio

​Aziz memutuskan untuk tidak mengumpat, melainkan menganalisis. Dia mengeluarkan smartphone-nya dan melakukan Studi Observasi Getnews sendiri, mengukur durasi lampu merah di jam sibuk.

​”Gila, Pak Budi! Saya sudah stuck sampai saya sempat melakukan Studi Observasi ala Getnews sendiri! Tahu enggak? Ini bukan salah volume mobil, Pak Budi! Ini salah manajemen waktu yang zalim!”

​DATA LAPANGAN: Studi Observasi Getnews (Kemacetan Mataram)

DATA LAPANGAN: Studi Observasi Getnews (Kemacetan Mataram)

Lokasi Observasi KritisDurasi Lampu Merah Rata-RataDurasi Lampu Hijau Rata-RataRasio Merah vs. Hijau
Simpang Empat Cakranegara85 Detik30 Detik2.8 : 1
Simpang Lima Ampenan70 Detik25 Detik2.8 : 1
Simpang Lima Rembiga90 Detik40 Detik2.25 : 1
Rata-Rata KritisLampu Merah 2.58 Kali Lebih Lama dari Lampu Hijau2.58 : 1

Kontradiksi Perencanaan Kota

​”Lihat itu, Pak Budi! Di Cakra, setiap kita dapat waktu jalan 30 detik, kita harus nongkrong dan galau selama 85 detik! Itu di hari biasa! Bagaimana Mataram mau menjadi kota yang efisien, kalau logika waktu lampu merahnya saja tidak efisien!”

Fokus Luar vs. Dalam: Pemerintah sibuk berfokus pada proyek luar (KEK Mandalika, akses bandara) padahal jantung kota Mataram—Simpang Cakra—kini mengalami kolesterol tinggi karena traffic internal.

“Buat apa Mataram punya rute terobosan cepat ke Bandara BIZAM kalau saya butuh waktu 30 menit cuma untuk menyeberang kota? Mataram itu sudah jadi kota slow living, Pak, tapi bukan karena pilihan, melainkan karena kemacetan!”

Smart Traffic atau Smart Parking?

​Kemacetan di Mataram adalah monumen kegagalan sense of priority. Aziz berharap, di tengah hype proyek nasional, Pemkot Mataram tidak lupa bahwa kebahagiaan rakyat lokal seringkali hanya sesederhana lampu hijau yang timing-nya pas, bukan 85 detik penuh penyesalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *