Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah memainkan orkestrasi besar yang menggabungkan kekuatan sains, kedaulatan sumber daya, dan ketangkasan geopolitik. Dari istana hingga ke pelosok desa di NTB, narasi besar ini mulai mewujud dalam kebijakan nyata.
1. Geopolitik: Beli Drone, Jual Kedaulatan?
Di tengah desakan Donald Trump agar Jakarta memperkuat pengawasan di Laut Cina Selatan (LCS) dengan armada drone buatan AS, Prabowo justru melihat ini sebagai peluang emas untuk memodernisasi alutsista tanpa kehilangan muka. Indonesia tidak sedang menjadi “kaki tangan” Washington, melainkan sedang membayar “premi asuransi” untuk menjaga jalur logistik nikel dan kekayaan Natuna Utara.
2. Ekonomi: OPEC-isasi Nikel dan Hilirisasi Danantara
Langkah berani Kementerian ESDM memangkas produksi nikel menjadi 260 juta ton adalah bukti kedaulatan. Strategi ini telah mendongkrak harga global hingga 17.000 USD/dmt. Kekuatan ini kemudian disuntikkan ke dalam 18 Proyek Hilirisasi Danantara, di mana kampus-kampus di seluruh Indonesia diberikan mandat menjadi pahlawan inovasi melalui injeksi dana riset sebesar Rp4 Triliun.
| Komoditas Strategis | Posisi Global | Dampak ke NTB |
|---|---|---|
| Nikel | Cadangan No. 1 Dunia (21 Juta Metrik Ton) | Standar baru royalti & bagi hasil daerah. |
| Tembaga/Emas | Pemain Utama melalui Freeport & AMMAN | Realisasi Smelter Sumbawa sebagai Hub Industri. |
| Tantangan Utama | Boikot lingkungan (ESG) dari Barat & ketergantungan modal asing (China). | |
Data di atas menunjukkan bahwa Indonesia bukan sekadar pemain receh. Namun, OPEC-isasi nikel akan menjadi senjata makan tuan jika hilirisasi di daerah—termasuk proyek smelter di Sumbawa—hanya menyisakan kerusakan lingkungan tanpa perbaikan kesejahteraan yang signifikan bagi warga NTB.
3. Desa Berdaya vs Alarm Korupsi
Di akar rumput, harapan besar tertumpu pada program Desa Berdaya yang akan dieksekusi Maret 2026. Prestasi NTB menyabet penghargaan Upakarya Wanua Nugraha menjadi bukti bahwa desa bisa berprestasi. Namun, Jamintel Kejagung melempar peringatan keras: 535 kasus korupsi Kades di tahun 2025 adalah noda yang harus dibersihkan melalui integrasi teknologi Jaga Desa.
4. Getnews Strategic Audit: Membedah Saraf Nasional
“Indonesia sedang melakukan transformasi ‘Triple-Threat’: Militer yang tangkas, Kampus yang inovatif, dan Desa yang mandiri. Pak Prabowo tahu betul, NKRI tidak bisa dijaga hanya dengan pidato patriotik; ia butuh drone untuk mengawasi laut, riset triliunan untuk mengolah tanah, dan sistem digital untuk menjaga kejujuran para aparat di desa. Kita bukan lagi kancil yang terjepit, kita adalah kancil yang sudah menguasai algoritma pasar dan radar militer.”
5. Dashboard Kinerja Nasional & Daerah 2026
“Dunia mungkin melihat kita sedang menari mengikuti genderang Amerika atau Tiongkok. Tapi di dalam negeri, kita sedang sibuk memastikan ‘Emak-emak’ melek digital, atlet kita merumput di Jerman, dan nikel kita tidak lagi dijual dengan harga murah. Ternyata, merdeka itu bukan cuma soal bebas dari penjajah, tapi bebas dari ketidaktahuan atas kekayaan sendiri.”
Kejayaan Indonesia di 2045 tidak akan ditentukan oleh seberapa canggih drone yang kita beli atau seberapa mahal harga nikel di pasar London. Ia akan ditentukan oleh apakah sistem ‘Jaga Desa’ mampu menghentikan kebocoran anggaran di tingkat tapak, dan apakah dana riset Rp4 triliun mampu melahirkan penemuan yang membuat industri kita tidak lagi bergantung pada paten asing. Di persimpangan ini, pilihan kita hanya dua: menjadi pemain utama atau sekadar menjadi pasar yang megah.




