ADA SEBUAH MOMEN di Washington yang bikin para diplomat Jepang mungkin ingin mendadak pura-pura nggak kenal bahasa Inggris. Bayangkan, Presiden Donald Trump berdiri di samping Perdana Menteri Jepang, lalu ditanya wartawan soal kenapa dia main “hantam saja” alias mengebom Iran tanpa kasih tahu sekutu. Bukannya jawab pakai strategi geopolitik yang berat, Trump malah mengeluarkan jurus maut: lawakan Pearl Harbor. “Siapa yang lebih tahu soal kejutan daripada Jepang? Kenapa dulu kalian nggak kasih tahu saya soal Pearl Harbor?” celetuknya dengan santai.
Ini bukan cuma soal Trump yang “emang orangnya asyik” atau “blak-blakan”. Ini adalah level baru dari komedi gelap di mana sejarah kelam, nyawa manusia, dan senjata nuklir dijadikan punchline untuk membenarkan tindakan gegabah. Trump memperlakukan sekutu seperti properti panggung dan musuh seperti bahan bercandaan di acara reality show. Kalau serangan mematikan dalam sejarah Amerika bisa dijadikan bahan guyonan saat dia sedang meluncurkan rudal ke Iran, maka kita bukan lagi bicara soal pemimpin yang “aneh”, tapi pemimpin yang benar-benar berbahaya.
“Menjadikan Pearl Harbor sebagai punchline saat mengirim rudal ke Iran itu ibarat melawak soal kecelakaan pesawat saat kamu sendiri yang jadi pilotnya. Lucu buat pilotnya, horor buat penumpangnya. Dan sayangnya, kita semua adalah penumpang di pesawat yang bernama Bumi ini.”— AMBARA SATIRE INDEX
Logika Trump seolah ingin bilang: “Kalian aja dulu main rahasia-rahasiaan pas ngebom kami, kok sekarang protes pas saya main rahasia-rahasiaan ngebom Iran?” Sebuah logika balas dendam lintas generasi yang sangat tidak nyambung tapi sukses bikin bulu kuduk merinding. Saat eskalasi AS-Israel vs Iran sedang di titik didih, memiliki pemimpin yang menganggap diplomasi adalah sebuah bit komedi adalah resep sempurna untuk bencana global. Trump tidak sedang membela Amerika; dia sedang bermain-main dengan nyawa orang seolah sedang menghitung rating televisi.
Bagi kita di Indonesia yang cuma bisa menonton dari jauh, fenomena ini adalah pengingat bahwa dunia sedang dipimpin oleh orang yang menganggap perang itu hiburan. Jangan heran kalau harga minyak naik atau Selat Hormuz meledak, Trump mungkin bakal bikin lawakan lain soal “Minyak Goreng” atau “Bensin Eceran”. Saatnya kita berhenti menyebut ini sebagai “kelakuan unik” dan mulai menyebutnya sebagai apa adanya: sebuah ancaman nyata bagi peradaban yang dipimpin oleh seseorang yang lupa kalau tombol nuklir itu bukan tombol Like di media sosial.
BACA JUGA ARTIKEL TRUMP LAINNYA:
Trump Nyetir Amerika, Tapi Rem dan Gasnya Dipegang Netanyahu?



