JIKA ANDA bertanya kepada kalkulator logistik mana pun di dunia, Selat Hormuz adalah detak jantung perdagangan global. Jarak terpendek, biaya termurah. Namun, dalam rilis resmi Kementerian Kebenaran Maritim Republik ini, berlayar memutar sejauh 8.000 mil laut mengelilingi Tanjung Harapan, Afrika, tiba-tiba diklaim sebagai “Keputusan Navigasi Paling Efisien Abad Ini.”
Di bawah kepemimpinan Sang Jenderal—sosok pemimpin berwajah teguh yang posternya selalu dipajang menghadap matahari terbit—negara ini baru saja meratifikasi keikutsertaannya dalam Board of Piss. Dewan ini adalah mahakarya Tuan T, seorang kaisar real-estate berambut pirang dari Barat yang mendefinisikan kata “Damai” dengan sangat Orwellian: Damai adalah mengebom mereka yang tidak sejalan dengan Tel Viv dan Pishington.
Fakta bahwa 90 persen rakyat Republik menolak keras pakta ini karena menganggapnya sebagai bentuk keterlibatan langsung dalam pembantaian di Tanah Zaitun, hanyalah eror statistik yang dengan mudah direvisi oleh negara. Demonstrasi jutaan massa di jalanan ibu kota disiarkan di televisi pemerintah sebagai “Karnaval Perayaan Solidaritas Global”. Doublethink bekerja dengan sempurna: Sang Jenderal mengenakan syal keffiyeh di mimbar pidato pagi hari, lalu menandatangani kontrak pembelian jet tempur dan embargo minyak Persia di malam harinya. Keengganan Jatavia (Ibukota Negara Kesatuan Konoha Raya) untuk melewati Hormuz bukanlah taktik navigasi; itu adalah bentuk ketakutan yang dibungkus dengan pita diplomasi.
Di dalam mesin kemunafikan raksasa inilah, Bima bekerja.
Bima adalah seorang analis rute di Direktorat Navigasi. Tugasnya setiap hari adalah memalsukan data konsumsi bahan bakar kapal kargo, memastikan bahwa rute memutar yang menguras triliunan rupiah uang pajak rakyat tampak menguntungkan di atas kertas. Ia adalah sekrup yang patuh. Setidaknya, sampai ia bertemu Farahnaz.
Farahnaz adalah seorang atase perdagangan maritim dari Hamadan, Persia. Mereka berdua sering bertemu secara diam-diam di sebuah kedai teh remang-remang di sudut Pelabuhan Sunda Kelana, satu dari sedikit titik buta (blind spot) yang luput dari pantauan kamera pengawas Biro Harmoni.
Cinta mereka tumbuh di atas peta-peta pelayaran yang digelar di atas meja kayu yang lengket. Farahnaz, dengan mata hitamnya yang menyala penuh perlawanan, tak pernah mengerti mengapa negara sebesar Republik ini rela bertekuk lutut.
“Kalian punya angkatan laut terkuat di khatulistiwa, Bima,” bisik Farahnaz suatu malam, menggenggam tangan Bima yang dingin. “Mengapa Sang Jenderal menolak berlayar melewati Hormuz? Mengapa kalian membiarkan kapal-kapal pembawa bantuan untuk Tanah Zaitun membusuk di pelabuhan hanya karena Tuan T melarangnya? Bergabunglah dengan kami. Selat itu milik kita, milik bangsa-bangsa yang menolak dijajah.”
Bima menunduk, menatap tehnya yang mulai mendingin. “Kau tidak mengerti, Farah. Di negara ini, keberanian sudah diprivatisasi. Sang Jenderal takut pada ancaman sanksi ekonomi Barat. Board of Piss menuntut ketaatan absolut. Jika kami melewati Hormuz dan berbaikan dengan bangsamu, mereka akan mencekik kerah baju kami. Di sini, 90 persen suara rakyat tidak lebih berharga dari satu tanda tangan kaisar berambut pirang.”
Kisah cinta mereka adalah pemberontakan kecil yang ditakdirkan untuk diremukkan.
Puncaknya terjadi pada minggu ketiga bulan November. Farahnaz dipindahtugaskan untuk memimpin langsung sebuah kapal kargo rahasia dari Bandar Abbas, Persia. Kapal itu tidak hanya membawa minyak murah yang sangat dibutuhkan oleh krisis energi di Republik, tetapi juga pasokan medis rahasia yang rencananya akan diselundupkan ke Tanah Zaitun melalui perantara Jatavia.
Farahnaz butuh satu hal dari Bima: koordinat patroli korvet Republik di Samudra Hindia, agar kapalnya bisa masuk tanpa terdeteksi oleh radar Board of Piss.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bima menentang Negara. Didorong oleh cinta dan sisa-sisa nurani yang belum membusuk, ia meretas peladen Kementerian. Ia mengirimkan jalur aman, sebuah koridor sempit di mana kapal Farahnaz bisa menyelinap.
Namun, Bima lupa bahwa di bawah rezim Board of Piss, mata elang Barat tidak pernah tidur, dan pengkhianatan sering kali datang dari rumah sendiri.
Algoritma pengawasan menangkap anomali data itu dalam hitungan menit. Tepat saat Bima menekan tombol Enter, pintu apartemennya didobrak. Enam aparat berseragam hitam tak bernama menyeretnya dari kursi. Ia tidak dibawa ke penjara, melainkan ke Ruang Evaluasi Pikiran—sebuah ruangan putih steril tanpa jendela.
Di layar raksasa di depannya, para interogator memaksanya menonton siaran langsung. Kapal kargo Farahnaz telah dicegat di perairan internasional. Namun, yang membuat jiwa Bima hancur berkeping-keping bukanlah rudal dari kapal perusak Amerigo yang menghantam lambung kapal itu. Yang membunuhnya perlahan adalah fakta bahwa koordinat pengeboman itu dikirimkan secara presisi oleh fregat milik angkatan laut negaranya sendiri—sebagai bukti “loyalitas” Sang Jenderal kepada Tuan T.
Kapal itu meledak, terbakar hebat, dan tenggelam bersama Farahnaz, minyaknya, pasokan medisnya, dan segala harapan tentang perlawanan.
Bima tidak disiksa dengan setruman listrik. Ia disiksa dengan birokrasi dan kekosongan. Selama berbulan-bulan, otaknya “dicuci” untuk menerima bahwa Farahnaz adalah teroris, bahwa cinta mereka hanyalah halusinasi neurotik, dan bahwa ketakutan adalah bentuk tertinggi dari kebijaksanaan geopolitik.
Setahun kemudian, Getnews merilis laporan utama dengan nada analitis, dingin, dan memuji: “Kepatuhan Jatavia pada pakta ‘Board of Piss’ terbukti membuahkan hasil. Pasar merespons positif peningkatan anggaran militer, dan rute memutar Tanjung Harapan kini dikelola dengan margin efisiensi yang luar biasa. Risiko di Selat Hormuz berhasil dimitigasi.”
Di sebuah bilik abu-abu di lantai 14 Kementerian Kebenaran Maritim, Bima duduk menghadap layar komputernya. Wajahnya pias, matanya kosong, merespons perintah mesin dengan gerakan mekanis. Ia sedang mengetik laporan baru yang membenarkan mengapa mengambil jalan memutar yang jauh, mahal, dan pengecut adalah keputusan paling heroik yang pernah diambil negaranya.
Ia menatap peta digital di layarnya. Tiba-tiba, sebuah titik kecil di Selat Hormuz berkedip sejenak karena glitch sistem. Untuk sepersekian detik, ada memori tentang mata hitam yang tajam dan aroma teh di pelabuhan tua. Namun, Bima segera menekan tombol Delete. Memori adalah tindak pidana.
Ia meminum kopi sintetisnya, lalu tersenyum hampa. Ia akhirnya mencintai Board of Piss. Ia akhirnya memaklumi rute Tanjung Harapan. Dan di bawah bayang-bayang Sang Jenderal, Bima belajar bahwa di dunia ini, beberapa kompas memang sengaja dipatahkan agar manusia lupa arah jalan pulang.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
2034 – Saat Kesalahan Kecil Membakar DuniaBACA JUGA ANOMALI LAINNYA:
H2SO4, Cinta, dan Mata yang Lupa Cara Menangis



