AMBARA

Logistik Turun dari Langit Aceh, Netizen Turun dari Langit-Langit Medsos: Sebuah Komedi Penanganan Bencana

Helicopter Caracal mendarat dimedan berlumpur (istimewa)

AMBARA — Kalau ada yang bilang jadi superhero itu gampang, mungkin dia mainnya kurang jauh ke Aceh Tamiang. Di sana, TNI dan POLRI bukan lagi pakai jubah, tapi pakai seragam yang beratnya nambah 5 kilo gara-gara lumpur.

​Kita harus angkat topi tinggi-tinggi buat Pemerintah Aceh. Gubernur Aceh kali ini beneran “ketiban duren” dalam arti positif: bantuan dari Kementan dan Bapanas tumpah ruah. Ini bukan sekadar bantuan “mie instan dua dus”, tapi dukungan skala besar yang bikin dapur umum nggak perlu lagi drama kekurangan stok bawang merah. Apresiasi tulus buat semua pihak yang sudah bikin logistik ini bukan cuma jadi angka di kertas, tapi jadi nasi hangat di piring warga.

​Tapi ya namanya juga Indonesia, bantuan ada, eh… medannya yang nggak ada akhlak. Lumpur di Aceh Tamiang itu sudah level “ekstrem”. Mau kirim bantuan pakai motor? Terbenam. Pakai mobil? Slip. Akhirnya, Helikopter Caracal TNI AU harus turun tangan jadi kurir dari langit.

Baca biar lebih yakin: Tembus Medan Berlumpur, Helikopter Caracal TNI AU Distribusikan Bantuan ke Aceh Tamiang

​Nah, di sini lucunya. Di saat para prajurit ini lagi bertaruh nyawa—dan kebersihan sepatu—buat nembus medan yang mustahil dirapikan dalam sekejap, di pojok sana ada saja golongan “Netizen Maha Tahu”. Itu lho, orang-orang yang kerjanya ngetik sambil rebahan di kamar ber-AC, terus ribut di medsos: “Kok lambat sih?”, “Kok nggak rapi-rapi?”, “Pemerintah tidur ya?”.

​Aduh, Kakak… situ pikir ngerapihin bekas banjir bandang itu kayak ngerapihin feeds Instagram yang tinggal klik delete? TNI/POLRI itu manusia biasa, bukan karakter The Sims yang tinggal klik-klik langsung bersih. Mereka juga butuh makan, butuh istirahat, dan jelas nggak punya kekuatan sihir buat ngilangin lumpur setebal dosa-dosa kita cuma dalam semalam.

​Berusaha maksimal itu wajib, dan itu yang sedang mereka lakukan. Tapi kalau disuruh merapikan segalanya sekejap mata? Ya maaf, mereka itu aparat, bukan Bandung Bondowoso yang bisa bangun candi sebelum ayam berkokok.

​Jadi, buat yang masih hobi ribut di medsos tanpa tahu rasanya narik bantuan di tengah lumpur: coba deh sesekali main ke lapangan. Kalau nggak mau bantu tenaga, minimal bantu doa. Kalau doa pun berat, ya bantu diam. Itu sudah cukup membantu kesehatan mental para pejuang di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *