JAKARTA — Di tengah meningkatnya volatilitas geopolitik di kawasan Teluk, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memberikan penilaian yang terukur mengenai ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Dalam laporan strategisnya kepada Presiden Prabowo Subianto saat sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jumat, 13 Maret 2026, Luhut memprediksi bahwa Teheran tidak akan mempertahankan blokade tersebut dalam jangka panjang.
Alasannya bersifat fundamental: ketergantungan timbal balik. Iran, meskipun memegang kendali atas jalur ekspor minyak paling vital di dunia tersebut, tetap membutuhkan aliran komoditas untuk menopang ekonomi domestiknya yang rapuh. Penutupan permanen selat tersebut justru akan menjadi tindakan bunuh diri ekonomi bagi Teheran sendiri.
Analisis Investigatif: Kalkulasi Realpolitik di Tengah Idul Fitri
Laporan Luhut kepada Presiden Prabowo merefleksikan sikap optimisme yang berhati-hati. Meskipun guncangan di Selat Hormuz berpotensi melambungkan harga minyak dunia (Brent crude), Jakarta yakin bahwa fondasi ekonomi dalam negeri masih mampu menahan volatilitas tersebut, setidaknya selama masa libur Idul Fitri 1447 H. Indonesia saat ini memiliki cadangan energi yang telah dimitigasi untuk menghadapi lonjakan konsumsi musiman.
Namun, ketergantungan struktural pada impor BBM tetap menjadi tumit achilles bagi fiskal Indonesia. Prediksi Luhut bahwa blokade Iran hanya bersifat temporer didasarkan pada logika Realpolitik: Iran tidak memiliki cukup ruang napas finansial untuk menghentikan aliran pendapatan minyaknya sendiri dalam waktu lama. Di sisi lain, kehadiran armada AS di kawasan tersebut menambah kompleksitas; setiap hari selat ditutup, tekanan inflasi global akan memaksa diplomasi paksa (coercive diplomacy) yang intensif.
Vonis GetNews
Prediksi Luhut merupakan upaya untuk menenangkan pasar domestik menjelang musim mudik nasional. Namun, ketergantungan pada stabilitas satu jalur air (chokepoint) menunjukkan perlunya percepatan transisi energi dan diversifikasi sumber impor minyak. Selama Selat Hormuz tetap menjadi satu-satunya urat nadi energi global, ekonomi Indonesia akan selalu tersandera oleh ketegangan di Teheran.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Prabowo dan Jurus ‘Muter-Muter’ di Tengah Perang AS-Iran



