LITERASI ANOMALI

Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai – Bagian 3

Oleh: Emha Firmansyah

​Bagian I: Tujuh Orang dan Sebuah Spanduk

​Keesokan harinya, Rian bergerak seperti martir yang baru saja menerima wahyu. Matanya yang sembap memancarkan kilat determinasi yang ganjil. Di tangannya, selembar kain blacu putih telah disulap menjadi spanduk mini, ditulis terburu-buru menggunakan spidol hitam tebal: “Kelompok Studi Madilog – Revolusi Pikiran atau Mati Sia-sia.”

​Ia menyebarkan undangan digital ke seluruh grup obrolan angkatan, lalu menempelkan selebaran fisik di mading utama kampus—berhimpitan dengan poster lomba cosplay anime dan brosur perekrutan bisnis multi-level marketing.

“Bagi yang menolak tunduk pada pembodohan struktural, mari membedah Materialisme, Dialektika, dan Logika. Ruang UKM Filafest, sore ini pukul 16.00 WIB,” begitu bunyi maklumatnya.

​Hasilnya? Sebuah ironi yang sempurna.

​Ruangan itu hanya dihadiri oleh tujuh orang. Dua mahasiswi kedokteran gigi yang salah masuk karena mengira ada seminar skincare gratis, satu mahasiswa abadi yang datang murni demi free snack, dan sisanya adalah barisan pemuda perongrong yang gemar berdebat namun selalu kehilangan argumen di depan dosen.

​Rian berdiri di depan kelas yang melompong dengan gestur Tan Malaka versi kekurangan tidur.

​“Teman-teman,” buka Rian, suaranya lantang memecah sunyi. “Kita harus berani menelanjangi fakta material di sekitar kita. Bagaimana mungkin cleaning service kampus ini digaji jauh di bawah UMR, sementara rektorat baru saja menganggarkan pengadaan unit Fortuner Hybrid untuk kendaraan dinas? Itu adalah dialektika! Benturan nyata antara mereka yang menguasai kapital dan mereka yang tenaganya diperas habis!”

​Dinda, mahasiswi yang duduk di barisan tengah, mengangkat tangan dengan ragu. “Lalu solusinya apa, Yan? Boikot bayar UKT? Atau… kita pakai metode manifesting kolektif saja supaya hati para birokrat itu terketuk untuk lebih dermawan?”

​Rian memijat pelipisnya, hampir kehilangan keseimbangan. “Manifesting?! Dinda, itu adalah puncak dari Logika Mistika abad modern! Bukan afirmasi gaib yang mengubah ketimpangan struktur ekonomi, melainkan kesadaran kelas dan tindakan nyata!”

​Bagian II: Iklim Investasi di Atas Meja Kuliah

​Tepat sebelum Rian melanjutkan kutipan halaman pertama Madilog, daun pintu ruang UKM terbuka lebar.

​Langkah kaki yang mantap masuk ke dalam ruangan. Itu Pak Rektor. Ia hadir lengkap dengan setelan jas gelap dan senyuman khas politisi yang telah teruji selama dua dekade di birokrasi pendidikan. Tatapan matanya menyapu ruangan, seolah memiliki radar otomatis untuk mendeteksi potensi gangguan stabilitas.

​“Selamat sore, anak-anakku yang kritis,” sapa Pak Rektor, nadanya begitu kebapakan namun dingin. “Diskusi yang menarik. Kegiatan apa ini?”

​Rian menegakkan punggung, mencoba tidak terintimidasi. “Kami sedang menginisiasi Kelompok Studi Madilog, Pak. Kami ingin membedah pemikiran Tan Malaka untuk merombak cara berpikir mahasiswa.”

​Pak Rektor terkekeh pelan. Suara tawa yang terdengar mekanis, mirip mesin penghitung uang yang sedang mengalami gangguan teknis.

​“Tan Malaka? Bagus, sejarah memang penting. Tapi, tolong ingat, jangan terlalu melirik ke kiri. Kampus kita ini adalah lembaga yang menjunjung tinggi keselarasan Pancasila. Kita saat ini sedang menjalin kemitraan strategis dengan konsorsium tambang nikel besar. Mereka sangat berjasa, memberikan dana riset dan beasiswa tahunan. Jangan sampai ada narasi-narasi… yang mengganggu iklim investasi dan reputasi kampus.”

​Seorang mahasiswa di sebelah Rian berbisik cemas, “Bro, serius. Kemarin korporasi itu baru menghibahkan sepuluh laptop berspesifikasi tinggi untuk laboratorium kami.”

​Darah Rian terasa mendidih hingga ke ubun-ubun. “Pak, justru itulah kontradiksi material yang ditulis Tan Malaka! Kita berdiri di atas kekayaan alam yang melimpah, namun institusi pendidikan kita harus mengemis pada korporasi untuk sekadar membeli alat kerja. Hilirisasi yang digaungkan itu pada akhirnya hanya menghilirkan kekayaan kita ke rekening luar negeri!”

​Pak Rektor melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Rian dengan tekanan yang halus namun penuh peringatan.

​“Rian, kamu ini mahasiswa cerdas, tapi jangan naif. Dunia abad ke-21 tidak lagi bergerak karena pertentangan kelas. Hari ini adalah era kolaborasi, sinergi, dan soft power. Lihat teman-temanmu yang lain, mereka sibuk membangun portofolio sebagai konten kreator. Itu juga bentuk perjuangan modern.”

​Di luar jendela ruangan, suara bising terdengar. Budi si Flexer sedang melakukan siaran langsung di pelataran tengah. “Guys, hari ini gue mau review es kopi susu literan sambil ngobrolin hustle culture biar cepat kaya di usia muda. Jangan lupa like dan subscribe ya!”

​Rian menatap keluar jendela. Pemandangan itu membuatnya merasakan kekosongan yang teramat sangat.

​Bagian III: Jamur dan Matahari Akal Sehat

​Malam merayap lambat di kamar kos Rian. Ia duduk lesu di tepi kasur, menatap babak Materialisme pada halaman 47 buku Madilog yang mulai menguning.

​Di sudut ruangan yang remang, distorsi udara kembali terjadi. Siluet bertubuh kurus dengan kacamata bulat itu kembali mewujud, duduk dengan santai di atas kursi plastik murah sambil memutar-mutar pensil tua imajiner di jemarinya.

​“Medan tempurnya lebih berat dari perkiraanmu, Nak?” tanya visi Tan Malaka itu, sebuah senyum jenaka tersungging di wajahnya yang tirus.

​“Sangat berat, Bang,” keluh Rian, melempar pandangan ke langit-langit plafon yang berjamur. “Masyarakat di zaman ini lebih memilih kenyamanan ilusi daripada kepedihan berpikir objektif. Mereka lebih memuja pamer kekayaan daripada membongkar kontradiksi yang membelenggu mereka.”

​Tan Malaka terkekeh rendah. Suara batuk kecilnya terdengar begitu nyata di telinga Rian.

​“Hal itu sudah aku rasakan sejak tahun 1943. Logika Mistika adalah candu yang mengakar dalam kebudayaan kita. Obat untuk menyembuhkannya memang pahit, itulah mengapa massa lebih menyukai pil manis yang ditawarkan para demagog, meski itu hanya meredakan gejala tanpa menyembuhkan penyakitnya.”

​Pria tua itu bangkit, menatap Rian dengan pandangan yang mengunci seluruh kesadaran sang mahasiswa.

​“Namun ingat petuahku: fajar perubahan tidak pernah digerakkan oleh rombongan orang banyak yang tak acuh. Sejarah selalu ditulis oleh segelintir orang gila yang berani berdiri tegak menantang arus. Teruskan langkahmu. Ganggu tidur nyenyak mereka yang menganggap ketimpangan ini sebagai takdir yang sudah final.”

​Siluet itu perlahan mulai memudar, menyatu kembali dengan bayang-bayang perabotan kamar kos.

​“Oh ya, ada satu hal lagi,” suara Tan Malaka terdengar samar sebelum benar-benar lenyap. “Jika kelak kau berhadapan lagi dengan para pemegang modal atau birokrat tambang itu, jangan tanyakan berapa nilai beasiswa yang mereka berikan. Tanyakan: berapa upah riil buruh di garis depan tapak tambang mereka? Itu adalah cara paling mendasar untuk menguji Materialisme mereka.”

​Rian menarik napas panjang, meresapi sisa aura yang ditinggalkan sang pemikir besar. Matanya kembali menatap ponselnya, bersiap menyusun rencana baru untuk keluar dari zona nyaman dinding kampus.

(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *