ANALISIS GETNEWS

Makan Gratis Saat Libur: Antara Niat Mulia dan Uji Nyali Logistik

Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani. Foto : Dok/Andri

​GETNEWS. — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tampaknya tidak mengenal kata “libur”, meski para siswa sedang asyik rebahan di rumah. Badan Gizi Nasional (BGN) tetap teguh pada pendiriannya: piring-piring harus tetap terisi. Namun, Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani, melontarkan kalimat yang sangat membumi—siapa juga anak sekolah yang rela mandi pagi dan menempuh perjalanan jauh ke sekolah saat libur cuma demi satu porsi makanan? Tampaknya, BGN sedang menguji seberapa besar cinta anak-anak Indonesia pada menu empat sehat lima sempurna dibandingkan dengan nikmatnya tidur siang di masa libur.

​Ketua BGN, Dadan Hindayana, sendiri sudah menyiapkan skema yang lumayan ambisius. Mulai dari menu siap santap yang isinya telur hingga dendeng untuk empat hari pertama, sampai rencana sistem delivery ke rumah-rumah layaknya ojek online pahlawan kelaparan. Irma Suryani mengingatkan, silakan saja dilanjutkan asal logistiknya tidak “ngos-ngosan”. Sebab, memberikan makan gratis di sekolah saat anak-anak masuk itu mudah, tapi mengejar anak sekolah yang sedang liburan di rumah itu urusan lain lagi—ini jurnalisme gizi atau sedang main petak umpet?

Matriks Operasional: MBG Versi Libur Sekolah

STRATEGI DISTRIBUSI: MAKAN BERGIZI GRATIS (LIBUR)
Target / SkemaDetail Pelaksanaan & Menu
Ibu Hamil & BalitaTetap berjalan normal sesuai jadwal rutin di SPPG/Posyandu.
Anak Sekolah (H1-H4)Menu siap santap: Telur, Buah, Susu, Abon, atau Dendeng.
Anak Sekolah (H5 dst)Pilihan: Datang ke sekolah atau mekanisme antar (*delivery*) ke rumah.
Catatan DPR RIEfektivitas diragukan jika jarak rumah jauh; BGN harus jamin logistik mampu.

Maksud hati ingin memastikan gizi anak bangsa tetap terjaga meski raport sudah di tangan. Namun, membayangkan kurir BGN harus mencari alamat siswa di gang-gang sempit demi mengantar sebutir telur dan susu, rasanya seperti menonton drama aksi heroik yang dipaksakan. Mungkin di masa depan, bukan cuma makanan yang diantar, tapi juga motivasi agar anak-anak tidak malas gerak. Kita tunggu saja, apakah program ini akan sukses membuat anak sekolah rajin “ngantre” di sekolah saat libur, atau justru hanya akan menambah tumpukan nasi kotak yang merana karena ditinggal calon penikmatnya yang sedang asyik liburan. Sabar ya, para pejuang gizi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *