Bedah Data BPS Oktober 2025: Tingkat Penghunian Kamar (TPK) dan Lama Menginap Turun, Bukti Kita Terlalu Cinta Event dan Lupa Experience.
Jika ada satu sektor di NTB yang disayang lebih dari anak kandung, itu adalah Pariwisata. Uang triliunan digelontorkan, sirkuit megah dibangun, dan event kelas dunia dihelat. Kita berteriak NTB Go International!
Namun, di tengah hiruk pikuk promosi itu, BPS merilis data Oktober 2025 yang dingin: Pariwisata kita sedang masuk angin. Angka-angka ini menunjukkan ironi: Kita berhasil menarik turis datang, tapi gagal membuat mereka betah.
Fenomena Dualisme: Nusantara Naik, Hotel Bintang Merana
Data BPS menunjukkan bahwa sektor pariwisata hidup dari dua dunia yang kontras:
- Wisatawan Nusantara (Wisnus) Tumbuh: Jumlah Wisatawan Nusantara (Wisnus) justru mengalami peningkatan. Wisnus tercatat sebanyak 1.310.028 orang, naik 3,25 persen MoM.
- Wisatawan Mancanegara (Wisman) Turun: Jumlah Wisman yang masuk via BIZAM justru turun tipis menjadi 9.333 orang.
- Analisis getnews: Wisnus menyukai NTB. Namun, turis asing (yang biasanya membawa Rupiah lebih banyak) mengalami penurunan, menunjukkan bahwa daya tarik global NTB belum sustain di luar musim liburan utama.
Kenapa Turis Cuma Mampir? Rata-Rata Menginap Hanya 1,87 Hari!
Masalah inti pariwisata kita bukan lagi soal kedatangan, tapi soal lama tinggal.
- Fakta Angka TPK: Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Bintang pada Oktober 2025 tercatat 43,51%, turun 2,15 poin MoM.
- Fakta Angka RLM: Rata-Rata Lama Menginap (RLM) di hotel bintang hanya 1,87 hari, turun 0,08 hari.
- Kritik Keras sambil Ngopi ala getnews: RLM yang rendah berarti uang yang dibelanjakan di NTB juga sedikit. Kita terlalu fokus pada proyek besar event (yang menarik Wisnus), tapi lupa menciptakan ekosistem dan pengalaman unik yang membuat turis betah seminggu. Turis Asing yang datang hanya check-in dan check-out dengan cepat. (Seperti orang cuma mau numpang pipis aja/becanda gaes)
Data BPS ini adalah alarm. Pemerintah Provinsi NTB harus segera menyadari: event besar hanya menghasilkan peak musiman. Jika kita ingin pariwisata berkelanjutan dan menarik devisa tinggi, kita harus keluar dari fetish pembangunan fisik dan mulai berinvestasi di kualitas pengalaman, keramahan, dan infrastruktur pendukung.
Baca juga ni biar paham: Dompet Petani NTB Tersenyum (NTP Naik!), Tapi Konsumen Mataram Merasa Harga Cabai Ikut ‘Pesta’
NTB memiliki sirkuit kelas dunia, tapi sekarang kita perlu kelas dunia dalam pelayanan agar turis mau menginap lebih dari 48 jam.
Menurut Anda, apa yang harus diperbaiki Pemprov NTB agar turis mau stay lebih lama? Apakah harga terlalu mahal, atau fasilitas pendukung kurang memadai? Atau apa perlu kita nikahi saja mereka 🤣🙏🏼, Beri pendapat Anda!
Emha Firmansyah
BPS !NSIGHT: Edisi Januari 2026
"Sourced from BRS BPS NTB - Strategic Analysis by GET DATA !NSIGHT"




