DUNIA DIPLOMASI kita baru saja menyaksikan sebuah plot twist yang lebih menegangkan daripada sinetron kejar tayang. Di tengah ancaman Iran mau meledakkan reaktor nuklir Dimona dan rontoknya stabilitas Tehran, Menko PMK Muhadjir Effendy muncul dengan penjelasan yang bikin kita semua garuk-garuk kepala: Indonesia resmi gabung Board of Peace (BoP). Alasannya? Menggunakan Strategy from Within.
Istilah keren ini, kalau diterjemahkan ke bahasa tongkrongan, kira-kira begini: “Kita masuk ke geng mereka biar bisa ngacak-ngacak dari dalem.” Pak Muhadjir bilang ini ikhtiar buat Palestina merdeka. Sebuah optimisme yang luar biasa, mengingat kita sedang mencoba bernegosiasi di meja yang sama dengan pihak yang punya rekam jejak “kelicikan” sedalam palung laut.
Masalahnya, berurusan dengan pihak “sana” itu ibarat main catur sama orang yang hobi ngumpetin bidak di balik kaus kaki. Sejarah mencatat, kelicikan ini bukan barang baru, tapi warisan turun-temurun. Sejak zaman Rasulullah di Madinah, kaum yang satu ini sudah hobi main “gunting dalam lipatan”. Ingat Bani Qainuqa, Bani Nadzir, atau Bani Quraizah? Perjanjian Piagam Madinah mereka tanda tangani dengan senyum, tapi di belakang, mereka sibuk buka pintu buat musuh dan mencoba mencelakai Nabi. Kebohongan sudah jadi kurikulum wajib: janji diteken pagi, sorenya dikhianati.
Jadi, ketika Pak Prabowo memilih masuk ke BoP untuk berjuang dari dalam, kita patut bertanya: Ini strategi intelijen tingkat tinggi, atau kita lagi setor nyawa ke meja yang kursinya sudah disabotase? Berjuang dari dalam itu bagus kalau kita bawa palu godam, tapi kalau cuma bawa surat belasungkawa, takutnya malah kita yang “diberdayakan” oleh kelicikan mereka yang sudah teruji ribuan tahun.
“Mencoba memperjuangkan Palestina dari dalam Board of Peace itu ibarat masuk ke grup WhatsApp komplotan maling buat ngajak mereka tobat: antara mereka yang insaf, atau HP kita yang malah ilang.”— AMBARA SATIRE INDEX
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Israel Joins the “Board of Peace”: A Masterclass in Geopolitical IronyBACA JUGA ARTIKEL TERKAIT:
Dilema Sang Juru Damai di Bawah Bayang-bayang Paman Sam



