FEATURE

Mataram dan Jejak Para Mantan Plastik: Kisah Kota yang Indah Namun Sering Lupa Diri

getnews/emha

Sang Primadona yang Sering Lupa Mandi

​Mataram itu seperti seorang primadona yang sangat memesona: jalur jalanannya rapi, skyline kotanya mulai menjulang, dan arsitektur gapura-gapura barunya memanjakan mata. Kita jatuh cinta pada janji kotanya yang bersih dan tertata.

​Namun, di setiap sudut kota yang kita lewati—khususnya di dekat Tempat Penampungan Sementara (TPS) Binaan—tersimpan rahasia kecil yang membuat alis kita terangkat. Ya, tumpukan sampah.

​Tumpukan itu bukan sekadar sampah, melainkan “jejak para mantan” yang kita tinggalkan setiap hari: botol air mineral bekas kencan di Taman, bungkus makanan ringan dari malam minggu yang lalu, hingga sisa-sisa dapur rumah tangga yang tak sempat kita olah menjadi kompos. Mataram terpaksa menampung semua kenangan itu. Inilah kisah cinta yang terhalang tumpukan. Sebuah dilema klasik antara citra kota yang indah dan kebiasaan warganya yang—mari kita jujur—sering lupa waktu membuang sampah.

Angka yang Tidak Jenaka: Mataram ‘Kekenyangan’ Dihantam Kiriman Sungai

​Permasalahan sampah Mataram bukanlah mitos, tapi data. Menurut data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, setiap hari, kota ini memproduksi sampah yang jumlahnya bisa membuat Anda menggelengkan kepala.

​Kota Mataram diperkirakan memproduksi sekitar 300 hingga 350 ton sampah per hari. Ironisnya, mayoritas sampah ini (sekitar 60-70%) adalah sampah organik yang sebenarnya mudah diolah, dan sisanya didominasi plastik sekali pakai yang masa hidupnya abadi.

​Masalahnya tidak berhenti di TPS Binaan saja. Saat ini, di musim penghujan, Mataram menghadapi tantangan tambahan yang jauh lebih berat. Sungai-sungai yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan, kini berubah menjadi jalur ekspres pengiriman sampah. Kiriman sampah dari hulu, didorong derasnya air hujan, seolah mendapatkan kuota tanpa batas. TPA kita harus menerima bukan hanya “jejak mantan” warga kota, tetapi juga “limpahan dosa” dari hulu yang masuk ke dalam sistem dengan volume tak terduga. Ini jelas membuat pekerjaan petugas kebersihan menjadi dua kali lipat lebih berat.

​Menurut Akademisi Lingkungan dari Universitas Mataram (UNRAM), salah satu pangkal masalahnya adalah kebiasaan “buang jam berapa saja.” TPS Binaan yang sejatinya memiliki jadwal buang, seringkali diabaikan. Kita melihat sosok “ninja sampah” yang beraksi diam-diam di malam hari, meletakkan kantong sampahnya di TPS mana saja, kapan saja, seolah TPS adalah panti asuhan yang siap menerima anak titipan 24 jam.

Peringatan Keras bagi Pemegang Kebijakan: Jangan Sampai ‘Pagar Makan Tanaman’

​Permintaan serius bagi para pemegang kebijakan di Pemkot Mataram adalah: jangan biarkan niat baik menjadi bumerang. TPA kita punya batas.

Mungkin ada baiknya:

  1. Perkuat Infrastruktur 3R: Perluasan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) skala kecil di tingkat kecamatan atau kelurahan adalah kunci. Sampah organik (yang 60% itu!) jangan sampai ke TPA, harus diolah di dekat sumbernya menjadi kompos.
  2. Penanganan Hulu Sungai: Perlu kerja sama lintas wilayah dengan Pemda hulu sungai untuk mengontrol pembuangan liar. Ini adalah prasyarat agar Mataram tidak terus-terusan menjadi tempat penampungan akhir kiriman dari daerah tetangga.
  3. Sanksi yang Konsisten: Jangan hanya berani menempel stiker peringatan. Penegakan hukum dan denda untuk “ninja sampah” harus diterapkan secara konsisten. Sanksi yang tegas akan lebih persuasif daripada spanduk yang sudah usang.

Tantangan Bagi Kita Semua: Menuju Mataram Tanpa Jejak Mantan

​Para komunitas peduli sampah lokal di Mataram sering berkata, masalah sampah bukan hanya masalah pemerintah, tapi masalah cinta. Cinta pada kota, cinta pada lingkungan, dan cinta pada diri sendiri.

​Setiap bungkus plastik yang kita tolak, setiap sisa makanan yang kita jadikan kompos, adalah wujud nyata dari tanggung jawab. Tidak ada solusi ajaib yang akan datang dari luar angkasa. Solusinya ada di tangan kita, di dapur kita, dan di depan pintu rumah kita.

​Mataram layak menjadi primadona sejati, yang bukan hanya indah secara visual, tapi juga bersih secara internal. Mari kita akhiri drama tumpukan sampah ini. Mataram berhak mendapatkan happy ending yang bersih, segar, dan bebas dari jejak-jejak masa lalu yang tak berguna.

HeroFirmansyah/WargaBiasa