AMBARA – Kalau kemarin kita bahas betapa gagalnya strategi menyerang untuk bertahan di Lombok Utara, hari ini ceritanya makin drama. Mariani, istri tersangka AL yang asli Prancis, buka suara soal meja rumahnya yang kosong melompong saat digeledah. Bayangkan, dituduh pengedar tapi barang bukti yang disita cuma uang 20 ribu perak. Itu pun kalau buat beli cilok di KLU, kenyangnya cuma sebentar, apalagi buat jadi modal bandar narkoba.
Mariani nggak sendirian. Ada Oki, istri tersangka MUB, yang ikutan curhat soal hukum yang katanya “Tajam ke Bawah”. Mereka mempertanyakan satu hal logis yang bikin kita garuk-garuk kepala: Kalau suami mereka tes urinenya negatif dan cuma bawa sabu 0,53 gram (yang kalau jatuh di pasir langsung hilang), kenapa justru mereka yang dikejar kayak buronan kakap, sementara rumah yang dicurigai sebagai bandar besar malah luput dari penggeledahan? Apakah rumah bandarnya punya ilmu menghilang atau memang sedang ada “salah alamat” dalam radar kepolisian?
Kasat Narkoba Polres KLU, AKP I Nyoman Diana Mahardika, sih kalem-kalem saja menanggapinya. Katanya, semua sudah sesuai prosedur karena dicegat di jalan dan barang buktinya ada. Klasik. Tapi ya itu dia masalahnya, “sesuai prosedur” seringkali menjadi mantra sakti untuk menjawab segala macam kejanggalan. Padahal, keadilan itu bukan cuma soal prosedur di jalan raya, tapi soal kejujuran di balik layar. Kenapa pembeli kecil yang dikejar mati-matian, tapi otaknya malah dibiarkan menghirup udara segar sambil ngopi?
Analisis getnews+ melihat ini sebagai ujian integritas buat Polres KLU. Kalau cuma menangkap orang dengan bukti 0,53 gram tapi urinenya negatif, itu prestasinya tipis-tipis saja. Publik butuh melihat bandar besarnya diborgol, bukan cuma “masyarakat lemah” yang terus-menerus jadi objek penegakan hukum yang tebang pilih. Mari kita audit lagi: apakah ini murni penegakan hukum, atau jangan-jangan cuma “kejar tayang” prestasi di awal tahun?
*geser ke kiri
Hukum itu ibarat jaring ikan; jangan sampai yang tertangkap cuma teri sementara hiunya dibiarkan lewat karena jaringnya sengaja dibuat berlubang besar. Curhatan Mariani dan Oki adalah pengingat bahwa di balik seragam dan lencana, ada nasib manusia yang butuh keadilan nyata, bukan sekadar keadilan di atas kertas laporan kejadian. Kalau bandarnya masih bebas, ya jangan salahkan kalau publik mikir yang macem-macem.




