ISTILAH ROUGE OPERATION atau Operasi Merah bukanlah barang baru dalam diskursus kriminologi militer. Di Indonesia, narasi ini sering muncul saat ada tindakan kekerasan terorganisir yang pelakunya adalah aparat, namun pimpinan institusi secara resmi menyatakan “tidak tahu-menahu” atau “di luar perintah komando”.
Jika kasus penyiraman air keras aktivis KontraS oleh personel BAIS ini benar merupakan Operasi Merah, maka kita sedang melihat sebuah paradoks: Negara yang melawan dirinya sendiri melalui tangan-tangan sempalan.
| Elemen Analisis | Karakteristik Operasi Merah | Risiko Institusional |
|---|---|---|
| Rantai Komando | Terputus (Bypass) langsung ke aktor intelektual informal. | INSUBORDINASI |
| Motivasi Utama | Loyalitas kelompok, ideologi radikal, atau pesanan elit. | POLITISASI |
| Pola Eksekusi | Seringkali ‘kotor’ agar memberikan pesan teror yang jelas. | PUBLIC UNREST |
Analisis: Indonesia Insights – GetNews Data Lab.
Mengapa ‘Bocah Bawah Tanah’ Tetap Ada?
Dalam sejarah transisi demokrasi kita, sisa-sisa kultur Orde Baru yang menempatkan militer sebagai instrumen politik belum sepenuhnya luntur. Operasi Merah biasanya lahir dari dua kondisi:
- Faksionalisme: Adanya persaingan antar-grup di dalam satu lembaga yang memicu salah satu grup melakukan tindakan ekstrem untuk menjatuhkan kredibilitas grup lainnya (mirip teori False Flag Reza Indragiri).
- Loyalitas Buta: Prajurit yang merasa lebih loyal kepada “mentor” atau mantan komandan mereka daripada kepada garis komando resmi Panglima.
Pesan di Balik Kekacauan
Mengapa intelijen sekelas BAIS beroperasi dengan “jorok”? Dalam analisis getnews, kekonyolan teknis (tidak pakai masker, barang bukti tertinggal) bisa jadi adalah pesan tersembunyi. Pelaku seolah ingin mengatakan: “Kami di sini, kami bagian dari sistem, dan kami tidak takut ditangkap karena kami tahu siapa yang akan menjamin kami di belakang.”
Namun, langkah cepat Puspom TNI mengirim mereka ke sel Super Maximum Security Guntur adalah serangan balik yang telak. Ini adalah upaya institusi untuk melakukan “amputasi” sebelum infeksi dari unit sempalan ini merusak seluruh marwah organisasi.
Kesimpulan: Siapa Sang Sutradara?
Operasi Merah tidak pernah benar-benar mandiri. Selalu ada “sutradara” di level atas yang memegang kendali. Tugas publik—dan aktivis seperti KontraS—adalah memastikan bahwa penyelidikan tidak berhenti pada nasib empat prajurit lapangan yang mungkin hanya dijadikan tumbal ( scapegoat ).
Sebab, jika Operasi Merah dibiarkan menjadi kebiasaan, maka hukum di republik ini hanyalah sekadar saran, sementara kekuasaan tetap dijalankan melalui ujung bayonet yang berlumuran air keras.




