OASE

Mencintai Mawar, Memaklumi Duri

Jalaludin Rumi (The Ethics Centre/getnews)

OASE – Jalaluddin Rumi pernah berbisik dalam bait puisinya yang abadi: “Mengapa aku harus membenci duri, sedang ia bagian dari setangkai mawar yang kucintai?”

​Di penghujung tahun 2025 ini, kalimat sederhana tersebut terasa seperti oase di tengah gurun yang gersang. Kita seringkali merayakan keindahan mawar—keberhasilan ekonomi, stabilitas politik, atau pencapaian pribadi—namun seketika mengutuk duri yang menyertainya. Kita lupa bahwa tanpa duri yang tajam, mawar tak akan punya cara untuk menjaga keindahannya dari gangguan luar.

Satu Kesatuan Takdir

Begitu pula hidup yang kita jalani sepanjang tahun ini. Bencana alam yang mengintai di samudera atau hiruk-pikuk birokrasi yang melelahkan adalah “duri” dalam setangkai takdir kita. Namun, bukankah duri-duri itulah yang memaksa kita untuk tumbuh lebih waspada, lebih tangguh, dan lebih dewasa?

​Jika kita mencintai keberhasilan, kita juga harus belajar memaklumi proses yang menyakitkan. Jika kita mencintai mawar kehidupan, kita harus menerima kehadiran durinya sebagai satu paket yang tak terpisahkan.

Pesan Langit tentang Penerimaan Total

Rumi mengajak kita berdamai dengan duri, karena ia tahu bahwa takdir tidak pernah datang separuh. Hal ini senada dengan pesan langit yang jauh lebih mendalam:

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

— QS. Al-Baqarah: 216

Ayat ini mengingatkan kita bahwa seringkali apa yang kita benci—rasa sakit, kegagalan, atau kesulitan—justru merupakan “duri” yang sedang melindungi kebaikan yang jauh lebih besar. Kita tidak membenci duri, karena kita sadar bahwa pengetahuan kita terbatas, sementara Allah Maha Mengetahui letak keindahan mawar yang sesungguhnya di balik tajamnya ujian tersebut.

Menutup 2025 dengan Syukur

Mari kita lihat kembali perjalanan setahun ini. Jangan hanya hitung mawarnya, tapi syukuri juga durinya. Karena dari tajamnya duri, kita belajar tentang kesabaran. Dan dari indahnya mawar, kita belajar tentang harapan.

Sisi KehidupanWujud “Mawar” & “Duri”Pelajaran Jiwa
Karier & EkonomiKeberhasilan Proyek (Mawar) vs Tekanan Kerja (Duri)Ketangguhan lahir dari tekanan yang dikelola dengan syukur.
Kehidupan SosialDukungan Keluarga (Mawar) vs Konflik Ego (Duri)Kedewasaan adalah tentang bagaimana memaafkan duri demi menjaga mawar.
Kondisi AlamKesuburan Tanah (Mawar) vs Ancaman Cuaca (Duri)Kewaspadaan adalah bentuk cinta kita pada kehidupan.

*geser ke kiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *