Ekonomi dan Keuangan Syariah (Eksyar) di Indonesia telah bergeser dari sekadar pasar ceruk (niche market) menjadi pilar ketahanan nasional yang strategis. Bank Indonesia, melalui Blueprint Eksyar 2030, kini mematok target ambisius: menjadikan Indonesia sebagai episentrum ekonomi syariah global dalam lima tahun ke depan.
Langkah ini bukan tanpa modal. Dalam laporan Global Islamic Economy Indicator, Indonesia kini bertengger di peringkat ketiga dunia. Angka ini mencerminkan bahwa ekosistem halal—mulai dari pemberdayaan pesantren hingga akselerasi ekspor—telah memiliki daya saing yang cukup untuk menantang dominasi pemain lama di Timur Tengah maupun tetangga serumpun.
Audit Strategis: Akselerasi Halal Value Chain (HVC) 2030
Fokus utama Bank Indonesia adalah mengintegrasikan digitalisasi dengan nilai-nilai ESG (Environmental, Social, and Governance) untuk menciptakan kemandirian ekonomi.
Pilar Ketahanan Ekonomi Baru
Melalui penguatan instrumen perbankan syariah dan literasi yang kini mencapai 50,18%, Bank Indonesia meyakini bahwa Eksyar mampu menjadi peredam guncangan di tengah ketidakpastian moneter. Transformasi ekonomi berbasis pesantren tidak lagi dipandang sebelah mata; institusi-institusi ini diproyeksikan menjadi mesin produsen produk halal yang siap menembus pasar internasional.
Vonis Strategis:
Visi 2030 ini menuntut konsistensi dalam penyelarasan regulasi dan keberlanjutan digitalisasi. Jika inklusi keuangan syariah terus tumbuh searah dengan tren ESG global, Indonesia bukan sekadar menjadi pasar konsumen, melainkan pemegang kendali utama dalam tata kelola ekonomi syariah dunia. Indonesia tidak lagi hanya mengejar ketertinggalan, melainkan mulai mendikte standar industri halal global.




