AMBARA

Menunggu ‘Alarm’ Samudera Sampai ke Meja Birokrasi

AMBARA – ​Di layar monitor saya, Samudera Hindia lagi nggak pengen bercanda. Sebuah pusaran tekanan rendah yang masif tertangkap citra satelit Zoom Earth, meliuk manja di selatan Nusa Tenggara dengan ekor awan konvektif yang mulai mencengkeram daratan. Kalau dilihat-lihat, liukannya lebih ngeri daripada antrean sembako murah. Secara visual, ini alarm tingkat tinggi buat siapa saja yang paham kalau alam itu nggak butuh disposisi buat ngamuk.

​Namun, di tengah gelombang antusiasme warga yang mencari ‘pegangan’ hidup lewat informasi di kanal ini—mungkin saking nggak tahunya lagi harus percaya sama siapa—sebuah ironi muncul: Kok bisa, ya, data yang sudah segede gaban dan seterang lampu neon ini masih saja tertahan di pintu-pintu birokrasi?

Baca ini: ‘Jangan Tunggu Bencana Datang’: Wamendagri Sentil Daerah yang Belum Apel Siaga

​Kita ini hobi sekali membanggakan visi “Negara Hadir”. Tapi mbok ya dalam urusan nyawa rakyat di pesisir, kehadiran negara itu jangan sampai kalah sprint sama kecepatan angin siklon. Data satelit ini sudah open source, tersedia secara real-time. Kalau peringatan ini baru sampai ke telinga nelayan pas perahunya sudah kebalik, atau warga di bantaran sungai Mataram baru tahu ada banjir pas kasurnya sudah mengapung cuma gara-gara prosedur administratif yang kaku, ya mending birokrasinya kita pensiunkan saja lewat jalur prestasi.

Baca juga: Mensesneg Prasetyo Hadi Instruksikan BMKG Pantau Ketat Cuaca Ekstrem

​Jangan sampai kita ini lebih jago mengetik laporan evaluasi berlembar-lembar setelah badai lewat, daripada melakukan aksi nyata pas badai masih di jalan. Alam itu sudah kasih bocoran lewat teknologi. Sekarang kita tinggal nonton: apa para birokrat kita punya telinga yang cukup tajam buat dengar alarm ini, atau mata mereka lagi silau sama tumpukan kertas kerja tahunan sampai gagal melihat pusaran raksasa di depan mata?

​Samudera nggak pernah bisa diajak negosiasi, apalagi disogok pakai amplop. Semoga birokrasi kita juga nggak lagi lanjut tidur siang.

Apa yang Dilihat SatelitApa yang Terjadi SebenarnyaCatatan Ambara
Pusaran Tekanan RendahLagi ‘pemanasan’ di Selatan NTB.Logistik laut bakal terhambat, dompet pedagang ikut kena imbas.
Awan Tebal (VWC)Mendungnya lebih pekat dari janji mantan.Buat yang mau terbang atau naik kapal kecil, mending sabar dulu.
Respon BirokrasiMasih dalam mode ‘loading’.Aksi di lapangan masih sesunyi kuburan.

*Geser ke kiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *