AMBARA – Desember di NTB bukan cuma soal musim hujan atau persiapan tahun baru di Gili Trawangan. Bagi ribuan buruh, ini adalah musim nujum; menebak-nebak berapa harga keringat mereka tahun depan. Akhirnya, Selasa kemarin, Presiden Prabowo Subianto mengetuk palu di Jakarta, menandatangani PP Pengupahan yang konon sudah digodok sampai matang—atau mungkin sampai gosong bagi sebagian pihak.
Kini, nasib ribuan pekerja di Mataram sampai pelosok Bima bergantung pada sebuah rumus matematika yang mendadak lebih populer daripada ramalan zodiak: Inflasi + (Pertumbuhan Ekonomi x Alfa). Ada variabel bernama “Alfa” yang rentangnya sengaja dibuat lebar, antara 0,5 sampai 0,9. Sebuah rentang yang seolah-olah memberi harapan, padahal kita tahu, di tangan birokrasi, angka 0,9 itu seringkali terasa sejauh bintang di langit.
Baca juga: UMP 2026: Sebuah Komedi Angka di Tengah Mimpi Pertumbuhan 8 Persen
Saat ini, UMP NTB masih setia nongkrong di angka Rp2,6 juta. Angka yang kalau dibawa ke pasar swalayan seringkali kalah telak dalam duel melawan harga beras dan minyak goreng yang larinya lebih kencang daripada motor MotoGP di Mandalika. Kita sedang berada dalam drama “Jalan Tengah”. Sebuah istilah yang sering dipakai pemerintah untuk menghibur buruh agar tidak demo, sambil tetap menjaga agar pengusaha tidak jantungan.
Gubernur Lalu Muhamad Iqbal kini punya waktu sampai 24 Desember untuk menentukan seberapa besar “Alfa” yang mau dikasih. Apakah beliau akan memberikan kado Natal yang beneran berisi daging, atau cuma sekadar amplop kosong berisi angka-angka inflasi? Di tengah ambisi pusat yang ingin ekonomi lari 8 persen, rasanya ironis kalau upah buruh masih dipaksa jalan di tempat dengan langkah gontai.
Kedaulatan ekonomi itu bukan cuma soal menjaga emas di Sumbawa Barat agar tidak dicuri orang. Kedaulatan sejati itu terasa di meja makan setiap malam. Kalau rumus matematikanya sudah canggih tapi rakyat masih harus berutang buat beli susu anak, maka Alfa, Inflasi, dan Pertumbuhan Ekonomi itu hanyalah deretan huruf mati yang tak punya arti. Kita tunggu saja sampai tanggal 24 nanti, apakah UMP 2026 ini akan jadi oase, atau hanya komedi angka jilid dua yang membuat kita tertawa getir di depan kasir.




