Ada satu hal yang lebih ajaib daripada pesulap yang mengeluarkan kelinci dari topi: yaitu pejabat yang mengeluarkan angka 8 persen di depan kamera televisi.
Beberapa hari lalu, saya melihat Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa di layar kaca. Dengan wajah seoptimis orang yang baru menang arisan, beliau bilang target pertumbuhan 5,4% itu “biasa saja”. Beliau mau kita lari ke angka 8. Angka yang kalau dalam fengshui katanya hoki, tapi kalau dalam dompet mahasiswa akhir bulan, itu cuma angka sisa kuota internet.
Dari Menara Kaca ke Pematang Sawah
Sambil mendengarkan Menkeu bicara soal “Size of Company” dan “Capital Market,” pikiran saya melayang ke Kebon Ayu, Lombok Barat. Di sana, Gubernur NTB baru saja meresmikan Desa Berdaya. Kontrasnya luar biasa. Di Jakarta orang bicara soal triliunan rupiah di bursa efek, di desa orang bicara soal bagaimana caranya agar pupuk bersubsidi nggak kayak mantan: susah dicari tapi sering bikin sakit hati.
Gubernur bilang, orang desa sekarang lebih “berdaya” daripada orang kota. Lucu ya? Dulu kita disuruh merantau ke kota buat cari nasib, sekarang malah disuruh balik ke desa buat cari makan. Mungkin kota sudah terlalu penuh dengan orang-orang yang sibuk mengejar pertumbuhan 8 persen, sampai lupa caranya menanam kangkung.
Simfoni yang (Semoga) Tidak Sumbang
Ada istilah keren yang dipakai: “Orkestrasi”. Katanya, pemerintah pusat, provinsi, sampai kabupaten mau main musik bareng buat nurunin kemiskinan. Saya membayangkan Pak Udin—kepala desa yang kemarin saya temui—disuruh pegang biola, sementara Menkeu jadi dirigennya.
Masalahnya, lagu yang mau dimainkan Menkeu itu genrenya “Heavy Metal” yang temponya cepat (baca: 8 persen), sementara Pak Udin di desa masih suka musik “Keroncong” yang pelan dan telaten. Kalau nggak sinkron, yang ada malah telinga rakyat yang budeg gara-gara dengerin janji-janji yang saling tumpang tindih.
Kedaulatan Bukan Angka di Atas Kertas
Menkeu Purbaya bilang, indikator suksesnya ekonomi itu kalau harga bahan pokok terjangkau. Nah, ini baru saya setuju. Kedaulatan itu bukan soal seberapa hijau indeks saham di layar monitor gadget kalian, tapi seberapa “berdaya” dompet kita saat berhadapan dengan penjual cabai di pasar.
Sebab, seindah-indahnya angka 8 yang digambar Menkeu, ia tetap akan terasa kosong kalau “Rasa Papua” atau “Asta Cita Rasa Desa” yang dijanjikan cuma jadi dekorasi panggung peluncuran saja.
Mari kita tunggu, apakah di 2026 nanti kita beneran jadi negara maju, atau kita cuma jadi negara yang maju-mundur-cantik gara-gara datanya masih hobi verifikasi tapi jarang realisasi.




