LOMBOK BARAT, getnews.co.id — Banjir yang merendam Sekotong pada pertengahan Januari 2026 bukan sekadar anomali cuaca. Dalam perspektif GET PLANET, genangan air di hilir adalah muara dari metabolisme ekonomi yang salah urus di hulu. Perbukitan Sekotong yang kini compang-camping akibat konversi lahan dan aktivitas ekstraktif telah kehilangan fungsinya sebagai penyangga hidrologis, memaksa alam untuk melakukan “koreksi” dengan cara yang paling menyakitkan bagi warga.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, dalam tinjauan lapangannya mengakui bahwa peninggian tanggul hanyalah solusi kosmetik jika jantung persoalannya—kerusakan hutan di hulu—tidak segera diamputasi melalui kebijakan reboisasi radikal.
“Banjir Sekotong adalah bukti nyata kegagalan kita dalam menjaga keseimbangan antara profitabilitas ekonomi dan daya dukung lingkungan (carrying capacity). GET PLANET melihat bahwa normalisasi sungai hanya akan menjadi pengeluaran APBD yang sia-sia selama perbukitan di selatan Lombok terus diperlakukan sebagai komoditas tanpa batas. Solusi berkelanjutan menuntut keberanian politik untuk menghentikan pemanfaatan lahan yang melabrak prinsip SDGs, terutama poin ke-15 tentang ekosistem daratan.”
Matriks Krisis Ekologi: Profil Hulu-Hilir Sekotong
| Indikator Planet | Kondisi Riil & Dampak |
|---|---|
| Vegetasi Hulu | Kritis; Konversi lahan hutan menjadi pertanian semusim. |
| Laju Sedimentasi | Sangat Tinggi; Pendangkalan sungai dalam waktu < 2 tahun. |
| Daya Resap Air | Menurun drastis; Air hujan langsung menjadi *run-off* ke pemukiman. |
| Target Solusi | Rehabilitasi Hutan dan Evaluasi Tata Ruang Wilayah. |




