OASE

METAMORFOSIS JIWA DALAM SUNYI WAKTU

proyek PJU NTB Rp17,8 Miliar ke rekening DPRD (ilustrasi - GETNEWS.)

​Dalam bentang perjalanan hidup, manusia sering kali terjebak dalam delusi bahwa orang-orang di sekitarnya adalah entitas yang statis. Kita berharap mereka tetap sama, dengan kehangatan yang sama, dan cara pandang yang serupa selamanya. Namun, Mahmoud Darwish—sang penyair perlawanan dan kerinduan—melepaskan sebuah kebenaran yang getir namun membebaskan: bahwa setiap detik adalah proses penghancuran versi lama untuk kelahiran versi baru. Manusia tidak pernah benar-benar menetap; mereka adalah arus yang terus mengalir, dibentuk oleh pahitnya luka, manisnya cinta, dan sunyinya kehilangan.

​Secara teologis, perubahan adalah sunnatullah yang mutlak. Hanya Sang Khalik yang kekal dalam kesempurnaan-Nya, sementara makhluk-Nya terus berputar dalam roda perubahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

​كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

“Setiap waktu Dia (Allah) dalam kesibukan (mengurusi hamba-Nya).”QS. Ar-Rahman: 29

​Ayat ini mengisyaratkan bahwa setiap hari membawa urusan dan kondisi baru bagi setiap jiwa.

​Pecahan Kontemplasi: Menghargai Versi yang Terus Berganti

1. Perjumpaan yang Tak Pernah Terulang

“Kamu tidak akan menemukan orang yang sama dua kali.” Kalimat ini mengguncang fondasi harapan kita pada manusia. Bahkan jika engkau bertemu dengan orang yang sama di tempat yang sama, ia sudah membawa pengalaman baru, sel-sel tubuh yang baru, dan barangkali, luka yang baru saja mengering. Pertemuan hari ini adalah peristiwa tunggal yang tak akan pernah bisa direplikasi.

2. Luka dan Waktu sebagai Pemahat Jiwa

Seseorang yang dulu hangat bisa berubah menjadi lebih sunyi; bukan karena ia membencimu, melainkan karena ia sedang bernegosiasi dengan beban hidupnya. Secara psikologis, kepribadian manusia terus beradaptasi. Jangan menghakimi seseorang berdasarkan versi lamanya, karena hidayah dan pengalaman hidup bisa mengubah siapa pun dalam sekejap mata.

3. Kepedihan di Balik Keindahan

Ada kepedihan karena kita tidak bisa membekukan waktu atau menghentikan perubahan pada orang-orang yang kita cintai. Namun, di sanalah letak keindahannya: perubahan adalah tanda hidup. Sesuatu yang tidak berubah adalah benda mati. Mencintai berarti memiliki kesediaan untuk jatuh cinta berulang kali pada versi-versi baru dari orang yang sama.

4. Bukan Pengkhianatan, Melainkan Perjalanan

Darwish mengajak kita untuk meluaskan sudut pandang. Jika seseorang berubah, sering kali itu bukan sebuah pengkhianatan terhadap komitmen, melainkan konsekuensi dari perjalanan batinnya yang sedang berproses. Memahami ini akan menyelamatkan kita dari kekecewaan yang tak perlu dan menumbuhkan empati yang lebih luas.

Aspek HubunganParadigma Statis (Lalai)Paradigma Berproses (OASE)
EkspektasiMenuntut orang lain tetap sama selamanya.Menyadari bahwa setiap orang sedang berproses.
Melihat PerubahanMenganggapnya sebagai pengkhianatan.Memahaminya sebagai bagian dari perjalanan.
Kualitas HadirMenunda perhatian (merasa selalu ada waktu).Menghargai momen hari ini (Urgensi Waktu).

Vonis Nurani: Refleksi bagi Jiwa yang Berjalan

​Hargailah setiap momen kebersamaan hari ini, karena besok engkau mungkin tidak akan bertemu dengan sosok yang sama lagi. Jadilah lebih lembut dalam memandang perubahan pada sesama, karena diri kita pun sedang berjalan dalam lorong waktu yang sama, menuju muara yang abadi.

Kamu tidak akan menemukan orang yang sama dua kali. Bahkan dalam dirimu sendiri pun, setiap hari adalah kelahiran bagi jiwa yang baru.

— Mahmoud Darwish —

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *