MATARAM – Setelah Pulau Sumbawa, kini giliran Kabupaten Lombok Timur yang harus berhadapan dengan kerentanan hidrometeorologis. Hujan ekstrem yang mengguyur sejak akhir Januari telah merendam pemukiman di Kecamatan Jerowaru, memaksa Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melakukan mobilisasi bantuan darurat pada Senin (2/2).
Insiden ini bukan sekadar limpasan air, melainkan peringatan akan lemahnya daya dukung lingkungan di tiga desa utama: Ekas Buana, Kwang, dan Seriwe. Sebanyak 145 Kepala Keluarga atau 568 jiwa kini bergantung pada kecepatan respons pemerintah daerah.
Respons Cepat di Tengah Genangan
BPBD Provinsi NTB bergerak melakukan intervensi fisik dan logistik guna mencegah dampak sosial yang lebih luas. Di lapangan, Tim Reaksi Cepat (TRC) memprioritaskan penyedotan air di titik-titik pemukiman yang masih terisolasi oleh genangan.
”BPBD bersama seluruh pemangku kepentingan terus memberikan penanganan terbaik. Kami juga mengimbau warga tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang belum berakhir,” ujar Sekretaris BPBD NTB, Ahmad Yani, di Mataram (02/02).
Penyaluran Bantuan Logistik:
- Kebutuhan Dasar: Paket sembako, mi instan, dan air mineral.
- Perlengkapan Tidur: 24 paket sandang, 20 lembar tikar.
- Kebutuhan Operasional: Mesin penyedot air dan pasokan BBM untuk percepatan pengeringan wilayah terdampak.
Dilema Puncak Musim Hujan
Banjir di Jerowaru hanyalah permulaan. Memasuki puncak musim hujan, Pemprov NTB mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologis yang lebih luas, termasuk tanah longsor dan angin kencang. Akurasi data dan diseminasi informasi berkala kini menjadi instrumen utama dalam pengambilan kebijakan.
Keberhasilan penanganan di Jerowaru akan diukur dari seberapa cepat aktivitas masyarakat kembali normal. Namun, bagi jangka panjang, revitalisasi infrastruktur drainase di pesisir selatan Lombok Timur harus menjadi prioritas sebelum hujan ekstrem berikutnya meruntuhkan sistem ketahanan wilayah tersebut.




